Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Penjelasan Soal Keberadaan Pura Melanting di Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 18 Agustus 2018 | 19:35 WIB
Ini Penjelasan Soal Keberadaan Pura Melanting di Bali
Ini Penjelasan Soal Keberadaan Pura Melanting di Bali


BALI EXPRESS, DENPASAR - Pura Melanting umumnya dibangun di pasar, seperti yang terlihat di sudut timur Pasar Kreneng, Denpasar.  Palinggih ini diyakini sangat fungsional karena tempat berstananya Dewa Uang.


Pura Melanting yang menjadi palinggahan Bhatara Melanting sebagai Dewa Uang ini, juga dikenal sebagai Bhatara Rambut Sedana yang juga dipuja sebagai dewi rejeki serta kekayaan. Lantaran fungsinya tersebut, Dewi Melanting atau Bhatara Rambut Sedana distanakan di pasar.


“Pasar dikategorikan sebagai tempat yang memiliki kegiatan transaksi paling tinggi, tempat untuk mendapatkan uang atau rejeki bagi siapa saja. Karena beliau dewinya rejeki, makanya distanakan di pasar,” ujar Pemangku Pura Melanting Pasar Kreneng, Mangku Wayan Darni.



Pura Melanting, berasal dari kata mel dan anting. Mel yang berarti perhiasan, sedangkan anting berati batu. Jika didefinisikan secara umum, Melanting berati sebuah perhiasan yang terbuat dari zat bebatuan. Bebantuan  yang dimaksudkan adalah emas. Namun, jika diartikan secara niskala, Pura Melanting merupakan tempat suci yang ditujukan sebagai tempat persembahan hasil bumi kepada Dewi Melanting.



Pemangku yang akrab disapa Jero Kamboja ini  menuturkan, Pura Melanting erat kaitannya dengan perjalanan Dang  Hyang Nirarta ke Pulau Bali. Dewi Melanting atau Ida Dyah Ayu Swabawa merupakan salah satu putri beliau yang ditugaskan untuk menjaga ibunya yang tengah hamil tua. “Bhatari Melanting itu putri dari Dang Hyang Nirarta.  Istri dari Dang Hyang Nirarta kala itu  hamil tua, makanya ia menugaskan salah satu putrinya untuk menjaganya. Dang Hyang Nirarta juga berpesan akan segera menjemput mereka setelah misinya menuju Besakih selesai,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan kemarin.



Dikisahkan dalam perjalanan menuju Bali, Dang Hyang Nirarta atau Peranda Sakti Wawu Rauh  mengajak serta keluarganya. Disebutkan, Dang Hyang Biyang Ketut, istri Dang Hyang Nirarta yang dalam keadaan hamil besar merasa sangat kelelahan. Dengan kondisi tubuh yang membengkak dan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya Dang Hyang Biang Ketut memohon untuk diizinkan beristirahat selama beberapa hari. 


Dengan berat hati, Dang Hyang Niararta menugaskan Ida Dyah Ayu Swabawa untuk tinggal dan menjaga ibunya. Ia berjanji akan kembali dan menjemput mereka setelah misinya berhasil. Selama dalam peristirahatan Ida Dyah Ayu Swabawa sangat senang membantu masyarakat desa sekitar. Karakternya yang cerdas serta ramah membuatnya begitu disayangi.


Ida Dyah Ayu Swabawa dikenal sangat mahir dalam berniaga. Ia mengajarkan bagaimana cara menjual barang yang baik, juga cara menawarkan barang kepada pembeli. “Ia sangat cerdas. Karena kecerdasannya, maka semua orang begitu menyayanginya,” ungkap Jero Kamboja.



Selama bertahun – tahun utusan sang ayah belum juga datang menjemput. Ida Dyah Ayu dan ibunya semakin lama semkin cemas. Setiap hari Ida Dyah Ayu memanjat pohon untuk melihat, apakah utusan ayahnya sudah datang untuk menjemput.


“Karena ia selalu terlihat menaiki pohon kelapa yang tinggi dan bergelantungan atau berayun,  maka ia disebut juga Ida Dyah Ayu Melanting,” ungkapnya.



Namun kecemasan yang semakin lama semakin menumpuk itu akhirnya membawa kekecewan.
Dang Hyang Biang Ketut, memohon kepada dewata agar ia, putri dan seluruh pengikut dan warga desanya diberi umur yang panjang, tanpa terpengaruh waktu.


“Beliau memohon hidup abadi karena ia takut ketika sang suami datang, ia bersama putra dan putrinya Ida Dyah Ayu Melanting tidak ada atau sudah meninggal. Maka itu, beliau memohon untuk hidup abadi,” ujarnya.



Memang permintaan tersebut terkabulkan. Dang Hyang Biang Ketut beserta putra bungsu dan putrinya, Ida Dyah Ayu Melanting, dan seluruh warga desa diberi anugerah hidup abadi. Namun, dengan konsekuensi mereka tak dapat terlihat oleh orang – orang lainnya.


“Mereka yang saat ini kita sebut sebagai wong samar. Atau orang yang tak terlihat. Dewi Melanting selain dikenal sebagai Dewi Uang juga merupakan Ratu Penguasa Wong Samar,” ungkapnya.


Lantaran itu pula,  kadang banyak ada palinggih lainnya. Di Pura Melanting, Pasar Kreneng, terdapat beberapa palinggih, yakni palinggih Bhatari Melanting,  Ratu Niang Lingsir, dan Ida Bagus Ratu Samar. “Piodalannya jatuh pada Purnama katiga sasih katiga. Yang ngempon para pedagang dan masyarakat krama adat,” ungkapnya.



Dijelaskannya, di Pura Melanting umumnya para pedagang memohon keselamatan, rejeki, dan ketentraman lahir batin. “Nah satu hal yang tegas diajarkan Bhatari Melanting adalah jangan curang. Jika ada pedagang yang berjualan dengan curang, baik menjual barang busuk ataupun berbuat curang dengan timbangan, niscaya tak akan pernah untung. Dan sudah banyak yang mengalami hal itu di sini,”ujarnya.



Ia menambahkan, banyak yang datang memohon agar dagangannya laris. Namun, jika cara yang digunakan baik dan jujur, biasanya akan berlipat – lipat hasil yang akan didapat. “Ada yang datang ke sini memohon agar dagangannya laris, namun ternyata dia curang, timbangannya diberi magnet. Memang banyak yang belanja, tapi dia mengaku tak pernah menikmati hasilnya karena untungnya habis tak karuan, bahkan kadang hilang. Setelah ditanyakan ke orang pintar, ternyata sari dari keuntungan itu diambil sama beliau yang berstana di Pura Melanting karena dari hasil curang," ungkapnya.



Di sisi lain, Jero Kamboja berharap agar pemerintah kian memperhatikan keberadaan pura di Bali, termasuk yang kecil.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura