Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Trisandhya Kendalikan Tri Guna dan Hilangkan Stres

I Putu Suyatra • Rabu, 20 November 2019 | 21:50 WIB
Trisandhya Kendalikan Tri Guna dan Hilangkan Stres
Trisandhya Kendalikan Tri Guna dan Hilangkan Stres

DENPASAR, BALI EXPRESS - Trisandhya dilaksanakan pagi, siang, dan sore, menjadi salah satu cara bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Namun, wajibkah harus tiga kali sehari?


Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, 50, mengutip Sarasamuscaya 1.4 menyebutkan bahwa : 'Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh yang utama. Sebabnya yang demikian, karena ia yang dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (punarbhawa) dengan jalan berbuat baik. Demikianlah keuntungannya menjelma menjadi manusia.' Ida Pandita asal Griya Natar Agung, Banjar Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar ini menambahkan, terlepas dari manusia bisa berpikir, kenyataanya manusia juga tidak bisa lepas dari pengaruh Tri Guna yang terdiri dari Sattwam, Rajas, dan Tamas.


Dimana Sattwam artinya sifat kebajikan (kebaikan), Rajas yakni sifat angkuh, bernafsu, dan Tamas yang berarti malas serta bodoh. "Akibat pengaruh dari Tri Guna, sifat manusia bisa menjadi pemalas dan angkuh. Oleh karena itu, dengan Trisandhya diharapkan bisa menetralkan sifat-sifat yang negatif pada diri manusia," paparnya ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Griya Natar Agung, Banjar Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar.


Dijelaskannya, Trisandhya berasal dai kata 'Tri' yang artinya tiga, dan 'Sandhya' berarti pergantian waktu. Jadi,Trisandhya  bisa diartikan sebagai persembahyangan yang dilakukan sebanyak tiga kali sehari. Tiga kali pada saat pergantian waktu dari malam ke pagi, pagi ke siang hari, dan siang ke malam hari. Waktu pergantian malam ke pagi disebut dengan Pratasewana yang  akan menguatkan Guna Sattwam dalam diri. Kedua dilakukan pada siang hari yang disebut dengan Madyasewana, yang dimaksudkan  untuk mengendalikan pengaruh Rajas pada diri manusia. Terakhir saat sore hari, disebut dengan Sandyasewana. Trisandhya sore ini untuk mengendalikan sifat Tamas atau malas.



Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, menyarankan  bahwa Trisandhya itu sebaiknya  dilakukan sebanyak tiga kali sehari. Trisandhya menurutnya  sebuah kewajiban, namun tidak dipaksakan. “Bukan sebuah keharusan, namun kalau bisa kenapa tidak? Trisandhya adalah cara kita mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan dan juga cara kita menyerap energi alam, karena saat itu kita sedang berkonsentrasi,” ucapnya.


Ketika umat sebelum kerja, lanjutnya, maka lakukan Trisandhya terlebih dulu. Hal ini bagi Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, akan mengisi energi yang positif untuk orang tersebut. Setelah bekerja sampai siang, maka bisa mengisi energi kembali dengan Trisandhya saat di sela-sela istirahat. “Tri Sandhya akan mengisi kembali energi kita untuk melanjutkan kerja sampai sore hari. Ketika pulang, kembali lagi bersembahyang untuk membuat segar dan bisa istirahat untuk rutinitas esok hari,” sarannya.


Jika ingin melaksanakan Trisandhya, lanjunya, umat Hindu tidak perlu sampai pas waktu harus jam 6 pagi, 12 siang, maupun jam 6 sore. "Waktu terlalu kaku akan membuat umat merasa terpaksa untuk bersembahyang, dan itu malah tidak baik. Ketika pagi mau Trisandhya bisa saja dilakukan jam setengah 6 pagi, ataupun bisa jam setengah 7," ujarnya.



Tetapi, Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga selalu menyarankan, alangkah baiknya Trisandhya kalau pagi bisa dilakukan sebelum matahari terbit. Lantas, kalau siang hari saat rutinitas lagi kerja, waktu Trisandhya  tunggu saat waktu istirahat. Cara tersebut dilakukan, agar umat tidak merasa terpaksa melaksanakannya ketika sedang bekerja.


Ditegaskannya, manfaat sembahyang agar tubuh bisa segar kembali. Bisa melatih belajar konsentrasi, sehingga orang yang sembahyang masih memikirkan masalah pribadi bisa melupakannya sejenak. Trisandhya adalah salah satu cara untuk melatih konsentrasi, sehingga lama kelamaan orang yang rutin menjalankannya   bisa melepas stres dan jenuh dalam menghadapi berbagai problem kehidupan.


“Suara keras, kecil atau di dalam hati itu kembali ke diri masing-masing kenyamanannya. Tetapi, ingat jangan sampai suara keras justru  membuat orang lain merasa terganggu, bahkan tetangga kesal, itu juga tidak baik. ” ujar pria yang memiliki nama welaka I Made Darma ini.
Ditanyai mengenai Trisandhya bisa batal atau tidak, Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga menjelaskan, tidak ada batal dalam menjalankan sembahyang tersebut. 


“Ketulusan melaksanakannya yang terpenting," urainya.


Dicontohkannya, ketika masa kecil di sekolah dasar hanya hafal  bait pertama saja, dan   itu juga bermanfaat,  sebab Tuhan melihat ketulusan ketika umat sembahyang.


Selain itu, lanjutnya, wanita sedang  menstruasi atau datang bulan juga tetap bisa melakukan Trisandhya  di dalam kamar. "Ketika datang bulan itu masuk ke tempat suci yang tidak dibolehkan, bukan tidak boleh memuja Tuhan. Tuhan itu ada dimana-mana. Jadi,  Trisandhya di dalam kamar pun tidak masalah,” pungkasnya.


 




Puja Trisandhya dan Artinya



Bait I : Om bhùr bhvah svah tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayàt.


Artinya : Tuhan adalah bhùr svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita.



Bait II : Om Nàràyana evedam sarvam yad bhùtam yac ca bhavyam niskalanko nirañjano nirvikalpo niràkhyàtah suddo deva eko Nàràyano na dvitìyo’sti kascit.


Artinya : Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.



Bait III : Om tvam sivah tvam mahàdevah ìsvarah paramesvarah brahmà visnusca rudrasca purusah parikìrtitah.


Artinya : Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, Mahàdewa, Iswara, Parameswara, Brahmà, Wisnu, Rudra, dan Purusa.

Bait IV : Om pàpo’ham pàpakarmàham pàpàtmà pàpasambhavah tràhi màm pundarìkàksa sabàhyàbhyàntarah sucih.


Artinya : Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.



Bait V : Om ksamasva màm mahàdeva sarvapràni hitankara màm moca sarva pàpebyah pàlayasva sadà siva.


Artinya :  Ya Tuhan, ampunilah hamba Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oh Hyang Widhi.



Bait VI :   Om ksàntavyah kàyiko dosah ksàntavyo vàciko mama ksàntavyo mànaso dosah tat pramàdàt ksamasva màm.


Artinya :  Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.


Om sàntih, sàntih, sàntih, Om (Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selamanya).



Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu