Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Usada Pamunah Cetik (13) : Kena Racun Ancar dan Bisa Angin

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 9 Maret 2021 | 16:39 WIB
Usada Pamunah Cetik (13) : Kena Racun Ancar dan Bisa Angin
Usada Pamunah Cetik (13) : Kena Racun Ancar dan Bisa Angin

DENPASAR, BALI EXPRESS-Usada Pamunah Cetik ini diserikan (dirilis bersambung) diambil dari Buku 'Berbagai Cara Pengobatan Menurut Lontar Usada, Pengobatan Tradisional Bali' yang ditulis oleh I Ketut Suwidja (1991). 


Berikut jenis racun, yang di Bali dikenal dengan nama Cetik, gejalanya, dan ramuan yang bisa dimanfaatkan untuk obat. Selain itu, juga diungkap sarana obat untuk penyakit lainnya.


Kena Sambar Tulang dan Upas Angina. Sarana : cuka diminum. Bedaknya : sama. Kena Racun Sumbar Tulang. Sarana : bagian-bagian dari alangai, air cendana, diminum.


Badan merah seperti bola api (Bali : kembungan api), terkena racun bisa angina. Sarana : daun paci-paci, seluruh perutnya disembar. Setelah disembar dibubuhi kapur tohor.


Kena berbagai racun. Sarana : ubi-dara-urip sabrang (Colocasia tuberosusa Benth), ketela putih Bali diparut lalu dicampur, diisi air. Lalu diremas-remas sampai halus, diperas dan disaring. Ditaruh (Bali : degdegang) supaya jernih. Ampasnya dijemur supaya tidak basi. Penggunaanya dengan mencampurkannya dengan air hangat, dan boleh juga minyak kelapa.


Kena Racun Ancar dengan gejala demam tinggi, sakit kepala hebat seperti dibelah. Sarana : semua bagian-bagian sereh (Cymbopogon citratus stapf Graminaceae) untuk jamu. Ampasnya untuk bedak. 


Kena Racun Sambar Tulang. Sarana : buah pisang ketip untuk jamu. Kena Bisa Angin. Sarana : ketela dibubuhi garam dan minyak kelapa ditambus. Setelah matang, seleuruh tubuhnya diusug.


Mantra memberi tenaga (Bali: babayon) kepada si sakit, milik Bhatara Bayu, juga untuk pembangkit kekuatan (Bali: pengurip pasupati). Mantra: Ong Ang Brahma kedep. Ong Ung Wisnu mandi, Ong Ang Iswara mandi. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya