Jika dilihat secara struktur, Sanggar Surya ini dibuat saat mulai sang Yajamana negem dewasa. Biasanya dibuat dari bambu maupun batang pohon pinang saat nanceb atau memasang taring (terob) secara gotong royong.
Sanggah Surya biasanya memiliki ukuran yang lebih tinggi dari pinggang manusia, bahkan ketika dilaksanakannya upacara Yadnya, sanggah ini dibuat lebih tinggi dari dasar bangunan tempat dilaksanakannya upacara Yadnya.
Akademisi Politeknik Negeri Bali, Ida Bagus Putu Suamba mengatakan Sanggar Surya dalam kegiatan ritus di Bali memang sangat erat penggunaannya. Bahkan jenisnya pun berbeda-beda tergantung besar kecilnya upacara yadnya. Sehingga ada tiga jenis, yakni Sanggah Surya, Sanggar Agung atau Sanggar Tawang.
Dikatakan Putu Suamba, Sanggar Surya adalah pelinggih sementara, yang dibuat dari bambu dan dibangun untuk memuja mengagungkan dan memohon anugrah kepada Dewa Surya saat upacara yadnya berlangsung.
Lalu, mengapa harus membangun Sanggar Surya?Di dalam Lontar Korawa Persada disebutkan bahwa sanggar surya itu menentukan tingkatan yadnya, apakah nista, madya maupun utama. “Jika upacaranya tingkat nista maka sanggar surya dipakai. Kalau madya Sanggar Agung dipakai, kalau yadnya tingkat Utama maka digunakan Sanggar Tawang,” jelasnya.
Meski berbeda, namun ketiganya memiliki fungsi yang sama, yakni untuk memuja Sang Hyang surya. Menurutnya, bukan tanpa alasan mengapa keberadaan Sanggar Surya, Sanggar Agung dan Sanggar Tawang wajib ada saat upacara dilaksanakan.
“Dewa Surya setiap saat selalu ada. Dunia ini diresapi oleh Beliau. Tetapi dengan menancapkan dan membangun Sanggar Surya, Sanggar Agung, Sanggar Tawang sebagai pertanda memantapkan hati dan keyakinan sekaligus memohon agar beliau berstana di sana,” ujarnya.
Selain itu, Sanggar Surya juga sebagai saksining bhuana, sekaligus sebagai sumber energi. “Secara fisika, matahari itu sumber dari segala sumber enegri. Tanpa ada Matahari, tidak akan ada energi. Beliau juga sebagai saksining bhuana dan Saksining Yadnya,” imbuhnya.
Umumnya, memasang sanggar surya bisa dilakukan saat sudah negem dewasa atau nangun kerti. Dalam Tradisi Hindu, bahkan sudah menjadi pengetahuan umum bersama. Kalau sudah melaksanakan yadnya, sekecil apapum, otomatis sudah membangun Sanggar Surya. “Sarana bebaktian itu sesuai dengan kemampuan. Tetapi intinya setiap yadnya membangun sanggar surya,” paparnya.
Selain Sanggar Surya, ada pula Sanggar Tawang. Bahannya pun sama yakni dibuat dari bambu berbentuk segi empat panjang yang memiliki pinggiran yang disebut dengan ancak saji.
Sama halnya seperti Sanggah Surya, Sanggah Tawang tidak menggunakan atap, namun terdiri dari tiga ruang atau rong telu yang merupakan simbol Dewa Surya dalam tatanan Tri Sakti, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Penggunaan Sanggah Tawang ini biasa dijumpai ketika dilaksanakannya upacara dengan tingkatan Utama. Beberapa di antaranya yakni Tawur Agung, Padudusan Agung. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana