Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mulanya Pasraman Pamangku, Kini Menjelma Jadi Museum Lontar

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 15 Maret 2022 | 21:23 WIB
MUSEUM: Bangunan bekas pasraman dijadikan Museum Pusaka Lontar oleh Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem. Dian Suryantini/Bali Express
MUSEUM: Bangunan bekas pasraman dijadikan Museum Pusaka Lontar oleh Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem. Dian Suryantini/Bali Express
KARANGASEM, BALI EXPRESS -  Masyarakat di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem banyak memiliki lontar yang disimpan di rumah masing-masing. Saking lamanya tersimpan, ada lontar yang telah rusak. Tidak bisa diselamatkan.

Melihat kondisi itu, desa adat setempat pun berinisiatif membuat gudang penyimpanan lontar bagi masyarakat. Akan tetapi usaha untuk membuat gudang itu berubah. Padahal mereka telah memiliki desain yang sangat modern. Pembuatan gudang itu rencananya dibangun di kebun milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Dukuh Penaban yang lokasinya di bawah Bukit Ngandang.

Seiring waktu, inisiatif untuk memiliki tempat penyimpanan lontar itu akhirnya dilakukan di Lingkungan Bukit Ngandang, desa setempat, di lahan yang lebih tinggi dari kebun KWT. Dari lokasi itu nampak jelas pemandangan Gunung Agung.

Di sekeliling banyak ditumbuhi pepohonan. Di tengah-tengah terdapat pondok kecil menyerupai tempat tinggal warga. Di sana tempat penyimpanan lontar milik Desa Dukuh Penaban yang disebut Museum Pusaka Lontar.

Bangunan yang kini museum, konon adalah tempat tinggal seorang pemangku. Pamangku ini tinggal di sebuah pondok kecil sederhana. Atapnya terbuat dari daun kelapa kering, dindingnya dari tanah liat atau tanah polpolan yang dikombinasikan dengan gedek bambu.

“Di sini dahulu tinggal seorang pamangku. Beliau tinggal di pondok yang kami sebut bale daja. Sekarang difungsikan sebagai Gedong Penyimpenan lontar,” kata Panyarikan Desa Adat Dukuh Penaban Nengah Sudana Wiryawan.

Pada awalnya hanya ada dua bangunan. Yakni bangunan bale daja yang merupakan tempat tinggal pamangku dan bale pasraman yang digunakan sebagai tempat belajar. Bale daja telah direstorasi sehingga bangunan tersebut tetap berdiri seperti semula. Bale Pasraman yang posisinya berada di depan bale daja direnovasi agar dapat difungsikan kembali.

Di sebelah Bale Pasraman terdapat bangunan Pawaregan atau dapur. Bangunan ini adalah bangunan baru dibuat menyerupai bangunan utama. Desainnya pun sama.

“Di awal kami menemukan arsitek dibuat desain modern. Ternyata setelah ketemu dengan arsitek dari Singaraja yakni Ketut Arta bersama pemerhati lontar Sugi Lanus, dibuatkan desain yang menyerupai bangunan asli. Maunya dahulu bikin seperti perpustakaan yang menyerupai Gedong Kirtya di Singaraja, akan tetapi disarankan untuk membuat bangunan yang sesuai dengan lingkungan Bukit Ngandang Desa Dukuh Penaban. Jadinya yang seperti ini, seperti rumah zaman dahulu, tapi sebenarnya adalah museum. Di dalamnya ada lontar yang dititip oleh masyarakat,” ujarnya.

Dari cerita masyarakat Desa Dukuh Penaban, pondok tersebut dahulunya adalah sebuah pasraman. Para pamangku yang dipilih secara niskala maupun musyawarah, wajib belajar atau menuntut ilmu di pasraman tersebut. Mereka akan belajar sampai dinyatakan lulus.

Para pamangku itu akan hadir dan belajar bersama Ida Dukuh di bale pasraman. “Nah di Bale Pasraman ini adalah tempat belajarnya para jro mangku yang dipilih. Mereka wajib 'kuliah' di sini. Mereka dididik di sini, bagaimana dia memantra, menggunakan genta. Kalau sudah lulus dari sini mereka sudah dipercaya mampu. Tapi kalau belum juga keluar dari sini, belum bisa dikatakan mampu. Bisa dibilang hanya pembantunya jro mangku,” tambahnya.

Setelah difungsikan sebagai museum, masyarakat mulai menitipkan lontar-lontar mereka untuk disimpan di tempat tersebut. Kepemilikan lontar pun tidak berubah. Tetap menjadi milik masyarakat. Hanya saja Museum Pusaka Lontar membantu dalam hal penyimpanan, pemeliharaan agar lontar-lontar tersebut tidak rusak.

Upaya konservasi juga dilakukan. Beberapa lontar milik warga banyak yang rusak. Tidak dibuang, melainkan digantung di bawah atap bale pasraman yang berada di lingkungan pondok maupun di belakang pondok. “Yang rusak digantung sebagai bukti kepada pengunjung bahwa inilah yang kami selamatkan,” imbuh pegawai Pemkab Karangasem ini.

Terdapat 100 cakep lebih lontar yang disimpan di Museum Pusaka Lontar ini. Paling banyak adalah lontar usada yang berasal dari masyarakat Desa Dukuh Penaban.

Ada juga lontar Bhuwana Kosa yang memuat tentang terjadinya alam semesta. Namun lontar tersebut tidak tersimpan di museum. Lontar tersebut masih berada di tangan masyarakat. Konon, lontar itu berusia 390 masehi pada tahun ini. “Ini tergolong lontar langka. Sedikit yang punya. Tidak tahu juga siapa pemilik aslinya. Sekarang disimpan di rumah Jro Bendesa Adat Desa Dukuh Penaban. Kalau di tempat lain saya kurang tahu apakah ada lontar seperti ini juga. Yang jelas ini satu-satunya ada di Karangasem,” terangnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #museum lontar #hindu #budaya #tradisi #Pasraman Pamangku