Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Mungkah Wali Desa Tambakan & Kisah Sapi Bernama Dewa

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 12 April 2022 | 17:26 WIB
DIHIAS: Godel dihias sebelum digunakan sebagai sarana upacara Mungkah Wali di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Ist
DIHIAS: Godel dihias sebelum digunakan sebagai sarana upacara Mungkah Wali di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Ist
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ada kisah menarik dalam sejarah pendirian Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Desa itu erat kaitannya dengan tradisi Mungkah Wali yang menggunakan sarana bulu geles atau godel (anak sapi) sebagai sarana ritual.

Bendesa Adat Tambakan I Komang Nita mengatakan, ritual Mungkah Wali sebagai bentuk rasa hormat dan bhakti terhadap leluhur dan juga para Dewa di Desa Tambakan.

Ritual Mungkah Wali menggunakan sarana bulu geles (godel) yang menjadi dasar keyakinan dalam ritual Nawur Bulu Geles dan Masegehan.

Dikatakannya, tradisi ini diturunkan secara lisan oleh masyarakat Tambakan sebagai simbolisasi pemujaan Dewa Siwa. Tradisi Mungkah Wali yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tambakan setiap dua tahun sekali. Upacara ini diselengarakan pada Purnama Kasa. Hal ini dilakukan mengingat godel yang disucikan disebut sebagai 'I Dewa', juga dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat memberikan keselamatan, kesejahteraan, kedamaian pada masyarakat Desa Tambakan.

Photo
Photo
Bendesa Adat Tambakan I Komang Nita. Istimewa

Dari penuturan para pendahulunya, Nita mengatakan, tradisi ini bertalian erat dengan sejarah dari pembentukan desa tersebut. Konon, pada zaman dahulu kala terjadi perang yang sangat dahsyat antara dua kerajaan, yaitu antara Kerajaan Bangli dan Kerajaan Buleleng.

Dalam peperangan tersebut bala tentara dan pasukan dari Kerajaan Bangli jumlahnya banyak dan tangguh. Sehingga bala tentara dan pasukan dari Kerajaan Buleleng serta masyarakat Padangluah tercerai-berai dan mengalami kekalahan dalam peperangan tersebut.

Dalam kondisi terdesak, pasukan dari Kerajaan Buleleng dan bala tentara serta masyarakat Padanguah masuk hutan dan bersembunyi.

Dalam persembunyiannya mereka berkaul (sesangi). “Apabila mereka tidak ditemukan dalam persembunyiannya oleh musuh dan selamat, maka mereka akan menghaturkan bulu geles (godel dalam keadaan mulus),” kenangnya, menirukan ucapan kaul tersebut.

Benar saja. Persembunyiannya tidak ditemukan oleh musuh hingga akhirnya selamat. Meski mereka telah kembali ke Desa Padangluah, namun dirasa masih belum aman. Maka diputuskan untuk tinggal di wilayah Belong yang kemudian menjadi Desa Tambakan.

Di desa ini kemudian mereka membayar kaul, yaitu menghaturkan bulu geles lengkap dengan upacaranya. “Mereka akhirnya menghaturkan bulu geles, yaitu seekor anak sapi berjenis kelamin jantan, tidak boleh cacat sedikitpun dari ujung kepala, mata, bulunya, ekornya, kakinya,” paparnya.

Godel ini tidak dipotong, melainkan dilepaskan begitu saja ke alam bebas. Pelepasan tersebut melalui ritual penyucian, sehingga godel yang dipersembahkan tidak lagi memiliki status sebagai sapi biasa, melainkan sapi suci yang oleh masyarakat Tambakan disebut Duwe Tambakan.

Lambat laun, cara berkaul ini justru menjadi inspirasi bagi masyarakat setempat agar permohona mereka bisa terkabulkan. Seperti mohon pekerjaan, mohon naik pangkat, agar bisnis lancar, sukses politik, lulus ujian, dapat sekolah favorit, ingin punya anak, ingin punya anak laki-laki.

Mereka berkaul sama dengan saat pasukan yang mengungsi dari kejaran musuh tersebut. Pada umumnya sebagian besar berhasil.

Mengingat makin banyaknya masyarakat yang berkaul, maka pembayaran kaul kemudian dilaksanakan setiap Tilem diselenggarakan di Pura Dalem Desa Tambakan. Pelaksanaan upacara itu diselenggarakan dengan menghias bulu geles dengan kain yang dililitkan ke badannya dan kedua telinganya dengan hiasan dari janur (karangmelok) serta diupacarai dengan banten. “Bulu geles tersebut kemudian diberi nama I Dewa, barulah dilepas dan masuk hutan,” sebut pria berusia 61 tahun ini.

Bendesa Adat Tambakan, Komang Nita mengatakan ada sejumlah tahapan yang dilaksanakan berkaitan dengan ritual Mungkah Wali. Tahapan pertama diawali adalah nawur bulu geles yang dilaksanakan pada Tilem. Persembahannya menggunakan godel jantan yang selanjutnya disucikan di Pura Dalem Tambakan, setelah itu dilepas ke alam bebas oleh para tetua adat.

Selanjutnya pada hari Purnama Kadasa diadakanlah prosesi Masegehang. Sapi yang dilepaskan ditangkap kemudian disembelih di Pura Prajapati. Di antara sapi yang ditangkap dipilih satu saja untuk dipersembahkan di dalam pura yang disusun membentuk plupuan.

Daging sapi yang tersisa selanjutnya dibagikan kepada masyarakat Tambakan. Kemudian dilanjutkan dengan piodalan yang jatuh pada rahinan Purnama di Pura Desa maupun Pura Dalem Desa Tambakan.

Adanya mitos bahwa sapi suci merupakan bagian dari Bhatara di Pura Dalem membuat masyarakat menjaga sikapnya bila mengadakan kontak dengan sapi suci ini. Sapi tersebut menggantungkan hidupnya dari alam, mereka mendiami kawasan hutan dan menjadikannya tempat tinggal.

Agar sapi suci masyarakat Tambakan hidup, maka masyarakat juga harus merawat alam sekitarnya dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Meski demikian, tidak ada perlakuan khusus dalam perawatannya.

“Selama I Dewa di dalam hutan yang dimakan hanya seperti makan-makanan yang baik seperti padang gajah, daun gamal yang masih muda, rerumputan yang yang subur. I Dewa tidak makan sembarangan karena tahu yang mana boleh dimakan maupun yang tidak boleh dimakan,” sebutnya.

Sapi suci ini juga dapat menjadi pupuk berjalan bagi tanaman di lingkungan Tambakan. Dengan terjaganya kawasan hutan tersebut ikut menjaga beberapa manfaat bagi kehidupan masyarakat Tambakan.

Bahkan, ritual Mungkah Wali menjaga ketersediaan sumber air di Desa Tambakan. Mereka melaksanakan ritual di sumber mata air serta mendirikan tempat pemujaan berdekatan dengan sumber mata air tersebut seperti di Pura Beji.

Secara tidak langsung, Mungkah Wali sebagai momentum untuk memuliakan sumber mata air seperti ritual Mlasti. Dengan tetap dilaksanakannya ritual ini maka, ketersedian air di Desa Tambakan dapat terjamin.

"Desa Tambakan mampu melestarikan sumber daya sapi di mana ketika diadakannya ritual Masegehan, sapi suci Tambakan disembelih, diambil darah, daging, serta organ lainnya,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #balinese #Tradisi Mungkah Wali #upacara #hindu #pura #budaya #Kisah Sapi Bernama Dewa #Desa Tambakan