Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Bale Gajah Tumpang Salu di Desa Sidatapa, Kini Kian Langka

I Putu Suyatra • Kamis, 5 Mei 2022 | 22:38 WIB
UNIK:  Bangunan Bale Gajah Tumpang Salu di Desa Adat Sidatapa. (Istimewa) Klian Desa Adat Sidatapa Putu Kasma. (Istimewa)
UNIK: Bangunan Bale Gajah Tumpang Salu di Desa Adat Sidatapa. (Istimewa) Klian Desa Adat Sidatapa Putu Kasma. (Istimewa)
Bale Gajah Tumpang Salu merupakan nama dari rumah adat di Desa Adat Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Seperti tempat suci, rumah adat ini memiliki konsep tri mandala, yakni utama mandala, madya dan nista yang memiliki fungsi berbeda-beda. 

KLIAN Desa Adat Sidatapa Putu Kasma mengatakan, Bale Gajah Tumpang Salu terdiri dari kata bale yang artinya rumah atau tempat tidur, gajah artinya besar atau ada juga yang mengartikan ilmu pengetahuan. Tumpang salu artinya tri mandala yaitu tiga wilayah yaitu nista mandala, madya mandala, dan utama mandala.

“Kalau dimaknai, Bale Gajah Tumpang Salu sering dimaknai sebagai rumah besar yang di dalamnya terdiri dari tiga bagian kawasan yaitu nista, madya, dan utama mandala. Utama mandala memiliki tiga fungsi yaitu sebagai tempat suci atau sanggah untuk sembahyang, tempat tidur, dan bale kematian,” ujarnya.

Madya mandala memiliki tiga fungsi yaitu sebagai tempat pemujaan Dewi Sri atau Dewi Padi atau kesuburan tempat menaruh padi dan beras. Di bawahnya ada paon atau dapur yang terdiri dari cangkem paon atau tungku dan gebeh atau jeding yaitu tempat menampung air bersih, serta ada bale untuk tempat menaruh perabotan rumah tangga, sering juga dipakai untuk tempat bekerja.

Bagian nista mandala berupa teras. Fungsinya sebagai tempat menerima tamu dan melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti satunya adalah menganyam keben sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat Desa Sidetapa. “Warga kami memang sebagian besar bekerja di sektor perkebunan dan kerajinan. Keben itu sebuah wadah berbentuk kotak yang biasanya untuk membuat banten atau sarana persembahyangan yang terbuat dari anyaman bambu,” paparnya.

Bangunan Bale Gajah Tumpang Salu sebut Putu Kasma memang tak bisa dipungkiri memiliki keunikan. Seluruh bagian ruang dalam satu bangunan dapat menampung aktivitas penghuni dalam berkehidupan sosial, ekonomi, spiritual, budaya, dan keamanan. “Jika dibandingkan dengan Bali dataran memang konsep tata ruang berbeda dengan konsep tata ruang bangunan tradisional Bali pada umumnya, yang terdiri dari banyak massa umumnya mengacu pada aturan Lontar Asta Kosala-kosali,” sebutnya.

Kasma pun tak menampik, bangunan Bale Gajah Tumpang Salu pada saat ini keberadaannya sudah sangat langka.  Sebagian besar sudah digantikan dengan bangunan rumah tinggal yang bentuk lebih modern. Hal itu menjadi ancaman terhadap kelestarian Bale Gajah Tumpang Salu. “Tentu saja, kondisi seperti ini menjadi ancaman bagi kelestarian rumah adat Bali Aga di Desa Sidatapa,” ungkapnya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #sidatapa #bale gajah tumpang salu #rumha adat #buleleng