Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dasar Perhitungan Tumpek, Nemu Gelang Puncak Pancawara dan Saptawara

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 27 Juli 2022 | 17:34 WIB
KERIS : Keris berbagai ukuran dipamerkan di Wantilan Kantor Bupati Karangasem, Minggu (10/4). Pameran ini terkait dengan perayaan Tumpek Landep. Penyusun Kalender Bali Gede Marayana I Putu Mardika/Bali Express
KERIS : Keris berbagai ukuran dipamerkan di Wantilan Kantor Bupati Karangasem, Minggu (10/4). Pameran ini terkait dengan perayaan Tumpek Landep. Penyusun Kalender Bali Gede Marayana I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS -Tumpek di Bali menjadi sebuah ritual yang tidak terlewatkan. Dalam satu siklus wuku atau selama 210 hari, terdapat enam wuku yang ada hari tumpek. Tentu ada perhitungan khusus untuk proses penentuan tumpek tersebut.

Penyusun Kalender Bali Gede Marayana menjelaskan, hari raya tumpek rutin datang setiap sebulan sekali atau dalam perhitungan kalender Bali, 1 bulan Bali setara dengan 35 hari. Saat pelaksanaan tumpek, umat Hindu di Bali senantiasa melakukan persembahan.

Setiap hari raya tumpek, umat Hindu melaksanakan upacara sesuai dengan jenis tumpek yang sedang berlangsung. Misalnya, saat Saniscara (Sabtu) kliwon wuku Landep, maka umat Hindu melaksanakan upacara Tumpek Landep. “Bila wukunya adalah Wariga, maka umat Hindu melaksanakan upacara Tumpek Wariga,” katanya.

Urutan berikutnya adalah Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang. Setelah itu kembali lagi ke siklus pertama, yaitu Tumpek Landep setelah enam bulan atau 210 hari.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang sering dikemukakan oleh umat Hindu, mengapa pada saniscara kliwon dan wuku Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, dan Wayang dikenal sebagai tumpek?

Marayana mengatakan, hari raya tumpek dirayakan sesuai dengan makna dari jenis tumpek yang sedang berlangsung. Misalnya, perayaan tumpek pangarah yang dirayakan oleh umat Hindu di Bali jatuh pada Saniscara kliwon wuku Wariga atau yang dikenal dengan Tumpek Pangarah.

Saat perayaan Tumpek Pangarah, umat Hindu mempersembahkan banten terhadap Sang Hyang Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan. Persembahan ini sebagai ucapan syukur atas diciptakannya aneka ragam tumbuh-tumbuhan. Secara lebih mendalam, makna dari perayaan tumpek ini adalah proses pelestarian tumbuhan.

Untuk menetapkan tumpek tidak bisa berdiri sendiri. Sebab, ada bagian dari pancawara, saptawara, dan hari pada setiap wuku jatuhnya tumpek harus merupakan yang terpuncak.

Dalam istilah pananggalan Bali, Saniscara kliwon dikenal sebagai tumpek, yaitu perpaduan sapta wara atau siklus tujuh harian, yaitu Saniscara dan pancawara atau siklus lima harian, yaitu kliwon. Saniscara dan kliwon merupakan puncak dari siklusnya masing-masing.

Demikian juga dengan wuku Wariga, berakhir pada Saniscara. “Ingat bahwa setiap wuku terdiri atas siklus tujuh harian atau saptawara. Puncak dari wuku Wariga adalah Saniscara. Karena merupakan puncak dari tiga bahan yakni saptawara, pancawara, dan wuku Wariga,” imbuhnya.

Marayana menyebutkan, tidaklah berlebihan jika tumpek dikenal sebagai puncak peradaban umat Hindu. Karena pada hari itu nemu gelang atau bertemunya puncak-puncak dari saptawara, yakni Saniscara, panca wara, yakni kliwon, dan suatu wuku yang menjadi nama suatu tumpek, yaitu Saniscara.

Wuku-wuku yang dikenal sebagai nama tumpek adalah wuku Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, dan Wayang. Tumpek Landep dirayakan setiap Saniscara kliwon wuku Landep, Tumpek Wariga dirayakan setiap Saniscara kliwon wuku Wariga.

Sedangkan Tumpek Kuningan dirayakan pada Saniscara wuku Kuningan, Tumpek Krulut dirayakan pada Saniscara kliwon wuku Krulut. “Tumpek Uye dirayakan pada Saniscara Kliwon Wuku Uye, dan Tumpek Wayang dirayakan pada Saniscara kliwon wuku Wayang,” paparnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #Gede Marayana #bali #balinese #hindu #Nemu Gelang #pura #Puncak Pancawara dan Saptawara #tumpek #budaya #tradisi #Penyusun Kalender Bali