Mesanggah di Desa Tenganan Pegringsingan dibagi menjadi tiga, yakni mesanggah jumu, mesanggah tengah, dan mesanggah duri.
Klian Desa Tenganan Pegringsingan I Putu Yudiana menjelaskan, ketiga prosesi mesanggah tersebut menjadi satu kesatuan dan berkaitan. Menurutnya, tujuan dari prosesi tersebut adalah untuk menetralkan alam. “Menjadi satu kesatuan, cuma pelaksanaannya yang berbeda,” ujarnya Jumat (5/8).
Prosesi tersebut diawali dengan mesanggah jumu yang dilaksanakan setiap kajeng kliwon sasih kaenem, mesanggah tengah saat kajeng kliwon sasih kapitu, dan mesanggah duri sasih berikutnya. Upacara mesanggah menggunakan babi hitam. “Hanya mesanggah duri yang ditambah dengan godel,” lanjutnya.
Disebutkannya, prosesi mesanggah ini tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan desa lain pada umumnya saat menjelang Nyepi. Bahkan di Tenganan Pegrisingan, pada saat mesanggah jumu juga berisikan medi-median. “Medi-median itu seperti ogoh-ogoh, tetapi sederhana. Itu di mesanggah duri terakhir,” paparnya.
Disinggung terkait sarana babi hitam, Yudiana mengungkapkan bahwa babi itu ditusuk hingga mengeluarkan darah. Tetapi tidak sampai mati. Setelah ditusuk, babi tersebut dilepas. “Darahnya itu sebagai pemarisudha bumi. Seperti yang lainnya menggunakan sabung ayam, di sini kami menggunakan babi. Nantinya daging babi itu akan dihaturkan,” tambahnya. (dir)