SINGARAJA, BALI EXPRESS - Daun menjadi sarana yang tidak kalah vitalnya dalam upacara yadnya umat Hindu di Bali. Daun diyakini melambangkan para dewa disesuaikan dengan warna dan jenisnya. Dalam Hindu juga dikenal dengan sebutan Panca Pala atau lima daun buah-buahan.
Dalam Kitab Bhagawadgita, Bab IX Sloka nomor 26 disebutkan jika daun sebagai salah satu persembahan selain buah, air, bunga dan api. Di Bali, penggunaan daun dalam upacara yadnya sudah menjadi budaya.
Sarana berupa daun juga dikenal dengan sebutan plawa yaitu jenis daun-daunan dari suatu tumbuhan tertentu yang juga bunganya dipakai sebagai sarana upacara yajna. Jenis daun atau plawa yang digunakan sebagai sarana yajna bukannya diperoleh secara sembarangan, tetapi diperoleh secara khusus yang telah ditanam pada suatu tempat yang suci pula.
Seperti tanaman bunga yang ada di halaman satu Pura, halaman Pemerajan, serta di sekitar tempat-tempat tertentu yang dipandang suci atau yang tidak mencemarkan jenis tumbuhan yang nantinya digunakan sebagai sarana upacara yadnya.
Dalam Lontar Yadnya Prakerti juga disinggung tentang dedaunan yang digunakan untuk upacara Yadnya. Adapun jenis-jenis daun yang diperlukan sebagai sarana upacara yajna, antara lain Daun beringin, Daun bilwa, Daun perancak, Daun dadap.
Ada pula daun rumput, seperti padang lepas, alang-alang, daun pandan arum, daun pudak. Kemudian daun pohon puring, daun enau, daun kelapa muda atau janur, daun nenas, daun andong, daun kayu tulak, daun kayu sisih, daun kayu sari, daun pisang, daun tingkih, daun salak, daun temen daun sudamala.
Jika diperhatikan penggunaan daun beringin merupakan daun yang paling umum digunakan sebagai lambang kesucian, lambang agni, dan sebagai alas untuk kesucian, baik dalam upacara Dewa Yajna, Pitra Yajna, maupun pelaksanaan yajna yang lainnya. Juga daun Bilwa juga digunakan sebagai sarana yajna terutama dalam memuja Hyang Siwa.
Penggunaan daun juga sangat jelas. Seperti pada canang Genten. Pada canang tersebut terdapat sarana berupa pelawa, sirih, daun pandan umum, bunga, dan sebagainya. Masing-masing sarana tersebut bermakna yang sangat utama.
Pelawa sebagai simbol atau melambangkan Hyang Wisnu (sedangkan Hyang Siwa dan Hyang Brahma digunakan kapur dan buah pinang), daun pandan harum simbol daya tarik atau rangsangan untuk memusatkan pikiran ke arah kesucian, serta bunga menggambarkan hati yang tulus iklas dan suci.
Baca Juga: Tri Ma Landasan Yadnya Umat Hindu di Bali
Dalam membuat daksina kita jumpai penggunaan pelawa peselan yaitu campuran dari lima jenis daun dan buah-buahan yang juga disebut daun panca pala, seperti daun durian simbol warna putih, daun manggis simbol warna merah, daun ceroring/duku simbol warna kuning, daun mangga simbol warna hijau, salak campuran warna-warna.
Kelima daun tersebut (pelawa peselan atau daun panca-pala) kalau kita perhatikan dan segi warnanya dapat bermakna pemujaan terhadap Panca Dewata yaitu Dewa Iswara arah timur, Dewa Brahma arah selatan.
Kemudian Dewa Mahadewa arah barat, Dewa Wisnu arah utara, dan Dewa Siwa pada posisi tengah (madya). Pada daksina ada penggunaan daun sirih yang disebut Base Tampel atau Sirih Tampel, bentuknya menggambarkan orang-orang yang sedang bersembahyang.
Editor : I Putu Suyatra