Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK! Tradisi Metoh Tohan di Desa Manikliyu Bali: Kelilingi Api Unggun 7 Meter Selama 12 Jam, Ada Sanksi bagi yang Kalah

I Putu Mardika • Rabu, 24 April 2024 | 17:58 WIB
METOH TOHAN: Tradisi Metoh tohan di Desa Manikliyu Bali dilaksanakan di api unggun setinggi 7 meter selama 12 jam. Yang kalah akan kena denda.
METOH TOHAN: Tradisi Metoh tohan di Desa Manikliyu Bali dilaksanakan di api unggun setinggi 7 meter selama 12 jam. Yang kalah akan kena denda.

BALI EXPRESS - Sebelum ritual matani dilaksanakan, masyarakat Desa Adat Manikliyu, Bangli melaksanakan tradisi metoh tohan.

Bendesa Manikliyu, I Nyoman Jaga, menjelaskan, ritus metoh tohan dilakukan dengan mengelilingi api unggun selama 12 jam.

Para penari bersama Sekaa Gambang dan Sekaa Gong terlebih dahulu berpuasa tidak boleh tidur dan tidak boleh keluar dari arena pertandingan yang disebut grombong.

“Apabila salah satu peserta, terutama daha (pemudi) dan janda (balu luh) menggunakan selendang dan jatuh, maka dinyatakan kalah,” kata Jaga.

Apabila mengalami kekalahan, lanjutnya, mereka terkena sanksi harus membayar denda berupa tuak 2 kaling atau 2-3 liter tuak.

Uniknya, saat metoh tohan, biasanya ada sebuah pertanda muncul. Yakni burung berwarna putih yaitu burung bangau atau kedis kokokan berukuran sangat besar.

Burung tersebut hinggap di salah satu pelinggih Pura Bale Agung di Desa Manikliyu.

Lebih lanjut Jaga menjelaskan, ritual metoh tohan atau grombong dilaksanakan di areal Jaba Tengah Pura Bale Agung.

Arealnya dibuat berbetuk lingkarangan dengan diameter kurang lebih 11 depa atau panjang rentang tangan dari ujung tangan kiri ke ujung tangan kanan. Setiap depa panjangnya sekitar 1,5 meter.

Pembuatan areal tersebut menggunakan pelepah daun enau yang sudah dikumpulkan oleh krama pengarep (warga inti).

Pelepah yang dikumpulkan pun harus dengan kondisi bagus. Apabila dinyatakan rusak harus dikembalikan dan diganti dengan yang baru.

Setelah semua terkumpul, pelepah-pelepah tersebut ditancapkan ke tanah, berbentuk lingkaran dan dijalin menggunakan tikar.

Tidak hanya mempergunakan pelepah enau tetapi juga menggunakan tikar yang nantinya akan membuat panas api itu tidak keluar dan hawa panas tersebut terasa oleh para penari.

Sebelum ritus metoh tohan dilaksanakan, terlebih dahulu ada persembahan sarana upakara berupa banten caru eka sata.

Tujuannya untuk mengharmorniskan dengan unsur palemahan.

Selama berada dalam arena grombong, para penari daha (pemudi) dan janda (balu luh) menari seperti Tari Rejang.

Sedangkan untuk teruna (pemuda) dan duda (balu muani) menari seperti Tari Baris (tarian peperangan).

Gerakan yang ditarikan juga tergolong sederhana. Daha (pemudi) dan janda (balu luh) menari mengelilingi api unggun dan mengikatkan selendangnya di salah satu jari yang saling mengikat satu penari dengan penari lainnya.

Posisi Pradulu (ulu apad) ikut serta menari yang fungsinya mengontrol jalannya suatu ritual.

Sementara para  teruna (pemuda) yang tidak mengikuti metoh tohan bertugas mengatur besar kecilnya api dan menyiapkan kayu bakar.

Mereka yang mempunyai tugas ini diperbolehkan keluar masuk arena (grombong).

Api unggun yang dibuat memiliki ketinggian sampai 7 meter, setara dengan tinggi pohon enau dan tidak boleh padam. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#sanksi #bali #Desa Manikliyu #metoh tohan #tradisi #api unggun