Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengapa Telur Memiliki Peran Penting dalam Ritual Hindu Bali? Simak Penjelasannya

I Putu Mardika • Senin, 6 Mei 2024 | 14:49 WIB
Penggunaan telur dalam ritual umat Hindu di Bali.
Penggunaan telur dalam ritual umat Hindu di Bali.

BALI EXPRESS - Sebagai salah satu elemen yang tak terpisahkan dari adat dan kepercayaan Hindu Bali, telur memiliki peran penting dalam berbagai upacara ritual.

Telur digunakan dalam beragam jenis banten, baik yang sederhana maupun rumit, dan diolah dengan dua cara, yaitu mentah (matah) dan dimasak (lebeng).

Menurut penjelasan Ida Bagus Made Bhaskara dari Griya Sunya Tampaksiring Gianyar, telur dimasak dengan berbagai teknik seperti merebus, menggoreng, menusuk dan membakar, serta memecah dan menggoreng tanpa minyak.

Berbagai jenis telur digunakan, mulai dari telur ayam, bebek, hingga angsa, bahkan reptil seperti tokek dan ular, terutama dalam ritus caru-caru khusus.

Telur tidak hanya hadir dalam ritual Hindu Bali yang rumit, tetapi juga dalam sajian sederhana seperti banten kacang-taluh.

"Irisan telur dan kacang-kacangan ini sering menghiasi sodan alit, menunjukkan peran telur yang tak terpisahkan dalam berbagai tingkatan ritual," ungkap Ida Bagus Made Bhaskara.

Bahkan dalam ritual paling suci seperti banten sanggar tawang, telur bebek menjadi komponen wajib dalam banten suci tiba rwa.

Hal ini menunjukkan makna penting telur sebagai simbol kesempurnaan persembahan.

Baca Juga: Penunggun Karang: Penjaga Niskala yang Mampu Menguak Kegagalan Teluh dan Ilmu Hitam Lainnya

 

Mengapa telur memiliki peran begitu penting?

Menurut mitologi yang terdapat dalam teks Widi Sastra Bhatara Nawa Dunggulan, telur memiliki makna yang mendalam.

Dikisahkan bahwa ketika manusia sibuk mempersiapkan banten persembahan kepada para Dewata, Bhagawan Siwa turun ke bumi dalam wujud Bhagawan Dunggulan.

Bhagawan Dunggulan memeriksa semua banten tersebut dan menemukan bahwa banten yang dibuat belum sempurna.

Untuk menyempurnakan persembahan tersebut, Bhagawan Dunggulan melakukan yoga.

Dari yoga yang beliau lakukan, muncul cahaya gaib yang berubah menjadi "teja manik", yang merupakan roh dari persembahan.

Bhagawan Dunggulan menyatakan bahwa untuk memberikan roh pada banten, manusia harus menggunakan telur.

Setelah menjelaskan pentingnya telur dalam menyempurnakan persembahan, Bhagawan Dunggulan menyarankan agar telur diwujudkan sebagai "manik urip".

Dari telur ini, lahirlah daging yang akan menjadi bagian dari persembahan.

Penjelasan ini menjadi salah satu dasar penggunaan daging dari berbagai binatang sebagai bagian penting dari banten.

Telur ayam, misalnya, menjadi daging ayam yang merupakan bagian penting dari berbagai hidangan ritual.

“Hal ini mengajarkan bahwa telur ayam merupakan simbol esensi kehidupan yang setara dengan daging dari binatang berkaki empat yang lazim dijadikan hidangan ritual,” paparnya.

Telur bebek juga dipandang memiliki makna yang sama, menjadi bagian dari berbagai hidangan ritual yang berbeda.

Dengan demikian, tulisan ini bisa diinterpretasikan sebagai bagian dari ajaran tantra, terutama dalam konteks persembahan daging.

“Baik ajaran tantra maupun teks Widi Sastra Bhatara Nawa Dunggulan tentang persembahan daging berada di bawah pengawasan Bhatara Siwa,” tutupnya. *** 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #upacara #Widi Sastra Bhatara Nawa Dunggulan #hindu #Ida Bagus Made Bhaskara #tampaksiring #telur #Tantra