Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah dan Keunikan Tarian Topeng Sidakarya: Tarian Pelengkap Upacara Yadnya Hindu Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 21 Juli 2024 | 02:36 WIB

Topeng Sidakarya adalah salah satu tari sakral dalam upacara Hindu Bali.
Topeng Sidakarya adalah salah satu tari sakral dalam upacara Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Tarian topeng merupakan elemen penting dalam upacara yadnya umat Hindu Bali.

Berdasarkan fungsinya, tarian topeng dibagi menjadi dua kategori, yakni profan dan sakral.

Tarian topeng untuk hiburan disebut profan, sedangkan yang dipentaskan saat upacara yadnya disebut sakral.

Sejarah Topeng Sidakarya

Penari Topeng Sidakarya, Gusti Ngurah Winda, mengungkapkan bahwa sejarah Topeng Sidakarya dimulai sekitar tahun 1500 silam.

Seorang Brahmana Keling dari Madura mengaku sebagai saudara Dalem Waturenggong dan Dang Hyang Nirartha.

Ketika masyarakat tidak mengenalinya saat upacara yadnya di Pura Besakih, mereka menganggap Brahmana Keling sebagai penipu karena penampilannya yang lusuh dan robek-robek, sehingga mereka mengusirnya.

Namun, Brahmana Keling memiliki kesaktian.

Ketika kutukan keluar, masyarakat mengalami berbagai bencana seperti hujan angin dahsyat, serangan hama pada tanaman, dan kegagalan upacara yadnya.

Setelah menyadari kesalahan mereka, masyarakat dan raja mencari kembali Brahmana Keling di Desa Sidakarya.

Brahmana Keling akhirnya menghilangkan kutukannya, sehingga upacara yadnya dapat terselesaikan dengan sukses dan bencana pun berhenti.

Pentingnya Tarian Topeng Sidakarya

Winda menjelaskan bahwa Topeng Sidakarya selalu menjadi bagian dari upacara yadnya yang dimulai dari tingkatan nista, madya, hingga utama.

Tarian ini harus dilengkapi dengan tirta dari Pura Dalem Sidakarya untuk memastikan upacara berjalan lancar.

Pada akhir pementasan, penari menabur beras dan uang kepeng sebagai tanda selesainya prosesi upacara.

Aturan dan Pantangan bagi Penari Topeng Sidakarya

Winda, menyatakan bahwa seorang penari Topeng Sidakarya harus rendah hati, beretika baik, memiliki pengetahuan, dan melaksanakan tugasnya dengan tulus.

Seni tari ini tidak hanya tentang kepintaran, tetapi juga rasa bhakti dan keyakinan.

Winda sendiri belum pernah mengalami gangguan saat pentas karena mengikuti pedoman tersebut.

Jenis-Jenis Topeng dalam Tarian Topeng Sidakarya

Tarian topeng di Bali memiliki enam jenis utama, yaitu:

  1. Topeng Keras: Menunjukkan suasana pagi, membuka pementasan dengan penuh semangat.
  2. Topeng Tua: Menunjukkan sore hari, pementasan yang lembut dan penuh wejangan.
  3. Topeng Penasar: Mencerminkan aktivitas sehari-hari.
  4. Topeng Raja: Menampilkan filsafat dan pemikiran dalam kehidupan.
  5. Topeng Bondres: Membuat suasana lucu dan menghibur penonton.
  6. Topeng Sidakarya: Menandakan akhir upacara dan pementasan.

Nilai-Nilai dalam Pementasan Topeng Sidakarya

Winda selalu menyelipkan nilai-nilai etika, filsafat, dan ritual dalam setiap pementasannya agar masyarakat memahami apa yang harus dilakukan dalam kehidupan.

Ia belajar seni tari dari almarhum ayahnya, yang merupakan perintis sanggar tari di desa mereka, serta dari Lontar Bebali Sidakarya, cerita rakyat, dan pengalaman pribadi.

Tiga Tokoh Penting dalam Topeng Sidakarya

Dalam pementasan Topeng Sidakarya, ada tiga tokoh penting:

  1. Dang Hyang Nirartha: Sebagai Pendeta.
  2. Ida Dalem Waturenggong: Sebagai Penguasa Raja.
  3. Dalem Sidakarya: Sebagai Sang Tiga Sakti.

Dengan sejarah yang kaya dan nilai-nilai spiritual yang dalam, Tarian Topeng Sidakarya terus menjadi bagian integral dari budaya Bali, menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui seni dan ritual yang sakral. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tarian #yadnya #sakral #Dang Hyang Nirartha #hindu #Topeng Sidakarya #sejarah #tari #brahmana