Tokoh Adat Kedisan, I Ketut Jembawa, menceritakan dikisahkan pada jaman dulu, desa Kedisan bernama Desa Bukit Tunggal yang terletak di atas, berdekatan dengan Pura Cepaga Bubung klambu.
Beberapa tokoh desa seprti kabayan rama pelinggih dane guru bayan), dang carya (guru bawu), dang guru (jero guru), ingin memohon sebuah prasasti kepada raja perempuan pada jaman dulu yang bernama Sri Pria Guna Dharma Patni.
“Beliau adalah raja perempuan bintang danu atau bukit tunggal yang sekarang dikenal dengan nama Desa Kedisan,” paparnya.
Dalam pembuatan prasasti beliau juga dibantu oleh leluhur yang ada di cepage (bubung klambu), beliau membuatkan prasati atakep untuk diserahkan kepada tokoh desa yang memohon prasasti tersebut.
Namun sebelum prasasti berhasil diserahkan kepada tokoh desa bukit tunggal, tetapi terjadi keributan dan prasasti tersebut direbut oleh leluhur yang ada Batur, karena prasasti telah direbut.
Baca Juga: Tradisi Bali: Tapakan Barong Jro Nyoman Sakti, Taksu para Seniman di Desa Kedis
“Maka pada tahun 808 SM pada hari umanis taulu leluhur desa bukit tunggal memutuskan untuk pindah kebawah, tepatnya di bintang danu yang saat ini sudah dinamanakan desa Kedisan,” ungkapnya.
Setelah pindahnya desa bukit tunggal ke bawah atau ke bintang danu, leluhur desa kedisan kembali memohon pada raja perempuan yang saat itu memerintah desa Kedisan agar diberikan sebuah prasasti, namun setelah memohon raja perempuan diberikan sebuah prasasti oleh leluhur pura Cepaga.
Karena desa bukit tunggal sudah berada di bawah dan menjadi desa kedisan, maka masyarakat membangun desa dengandibangunya beberapa pura yakni Pura bale agung, yang dibangun pada tanggal 15 sasih kelima, soma umanis taulu tahun 808 sampai dengan tanggal 11 sasih kedasa tahun 896 dengan jumblah pengayah 20 orang dan dengan dibantu oleh orang dari kerajaan majapahit.
Pembangunan pura dalem pingit pada tanggal 3 tahun 909 sasih kelima, ware saniscara umanis merakih. Pembangunan pura puseh, pura puseh dibangun pada tanggal 10 tahun 986, pada sasih kapat, sukra umanis ukir.
Setelah berdirinya tiga pura tersebut, maka dipilih yang akan menjadi peduluan yaitu yakni 2 Jero Kabayan, 2 Jero Bawu, 4 Jero Guru, 2 jero Penyarikan, 2 Jero Mangku, dan 2 Bendesa Adat.
“Setelah selesai dibangunnya ketiga pura, dan sudah terbentuknya peduluan, maka masyarakat kedisan hidup dengan damai sampai dengan saat ini,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika