BALIEXPRESS.ID - Dari namanya saja, Pura Petitenget sudah menimbulkan kesan sakral dan angker. Terletak di Jalan Raya Petitenget, di ujung barat laut Desa Kerobokan, Kabupaten Badung, Bali, pura ini memiliki kaitan erat dengan perjalanan spiritual Dang Hyang Dwijendra, tokoh penting dalam sejarah Hindu Bali.
Jro Mangku Gede I Made Widra, pemangku Pura Petitenget, mengungkapkan bahwa berdirinya pura ini tak lepas dari jejak perjalanan Dang Hyang Dwijendra.
Nama "Petitenget" sendiri berarti "Peti yang sakral atau angker," yang merujuk pada peti milik Dang Hyang Dwijendra, dikenal sebagai pecanangan.
Sejarah Pura Petitenget dimulai dari perjalanan Dang Hyang Dwijendra bersama Bhatara Pura Masceti menuju barat.
Di tengah perjalanan, mereka singgah di Pura Sakenan, Desa Serangan, Denpasar, untuk beristirahat.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Dang Hyang Dwijendra memberikan amanat kepada warga Desa Serangan untuk menjaga dan merawat Pura Sakenan.
Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke arah barat hingga tiba di hutan di ujung barat Desa Kerobokan.
Di hutan tersebut, Dang Hyang Dwijendra berniat beristirahat, namun tiba-tiba muncul raksasa besar bernama Ki Buto Ijo yang menguasai hutan itu.
Dalam pertemuan tersebut, Dang Hyang Dwijendra menyampaikan niatnya untuk moksa di tempat itu, dan seluruh barang bawaannya, termasuk pecanangan yang menyerupai peti, diserahkan kepada Ki Buto Ijo.
Peti itu kemudian dikeramatkan oleh Ki Buto Ijo, namun keinginan Dang Hyang Dwijendra untuk moksa di hutan tersebut tidak direstui oleh Bhatara Masceti.
Dang Hyang Dwijendra kemudian disarankan untuk melanjutkan perjalanan ke selatan, mencari bukit yang menjorok ke laut.
"Bukit tersebut kini menjadi tempat berdirinya Pura Uluwatu, tempat Dang Hyang Dwijendra akhirnya moksa," ungkap Jro Mangku Gede I Made Widra.
Setelah Dang Hyang Dwijendra meninggalkan hutan, terjadi peristiwa aneh di hutan yang dikuasai oleh Ki Buto Ijo.
Konon, seorang warga yang sedang mencari kayu bakar tanpa sengaja menebang hutan tersebut, dan tak lama setelah itu, ia jatuh sakit.
Penyakit itu menyebar ke warga lainnya, menyebabkan wabah yang tak ada obatnya.
Mendengar kabar bahwa Dang Hyang Dwijendra berada di Pura Uluwatu, para tetua Desa Kerobokan memohon petunjuk kepadanya.
Dang Hyang Dwijendra menjelaskan bahwa wabah tersebut disebabkan oleh Ki Buto Ijo.
Beliau meminta agar dibuatkan tempat pemujaan bagi Ki Buto Ijo sebagai stananya, karena raksasa itu telah diberi kekuatan untuk menjaga barang-barang titipan, termasuk pecanangan berupa peti.
Akhirnya, didirikanlah Pura Petitenget di sekitar hutan tersebut, dan setelah itu, wabah pun hilang, membawa kedamaian kembali ke Desa Kerobokan.
Pecanangan atau peti yang disakralkan tersebut kini berstana di gedong dalam jeroan pura, meski secara fisik sudah menghilang, namun secara niskala masih diyakini keberadaannya.
Hingga kini, terdapat tiga pura utama di lingkungan Pura Petitenget: Pura Masceti sebagai panyawangan Ida Bhatara Masceti, Palinggih Ki Buto Ijo di madya mandala pura, dan panyawangan Dang Hyang Dwijendra di jeroan pura.
Piodalan di pura ini dilakukan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Rabu Wage Wuku Merakih, sesuai kalender pawukon Bali.
Hubungan antara Pura Petitenget dan Pura Masceti pun tetap diyakini kuat, di mana Pura Masceti disebut sebagai pradana, dan Pura Petitenget sebagai purusa. ***
Editor : I Putu Suyatra