Dikatakan Tokoh Adat Sidatapa, Putu Kasma empat belas gerakan itu memiliki makna masing-masing.
Gerakan pertama adalah Jang Penundun. Jang ini adalah Jang yang ditarikan pertama sebagai pembukaan tari Jang. Dumana jang Penundun berasal dari “Nundun” yang artinya membangunkan.
“Jadi jang Penundundun ini memiliki makna gerakan untuk membangunkan para pemuda dan pemudi yang ada di Desa Sidetapa agar mau menari, dalam kata lain Tari Jang ini ditarikan untuk membangkitkan semangat menari,” katanya.
Baca Juga: Persiapan Pilkada 2024, KPU Tabanan Atensi tiga Kawasan Rawan Bencana
Selanjutnya Gerakan Jang Papag Rurung. Jang ini adalah tarian yang kedua, dimana Jang Papag Rurung ini berasal dari kata “Papag” yang artinya menjemput dan kata “Rurung” yang artinya jalan.
Jadi maka makna gerakan tarian ini adalah untuk menjemput para penari yang sudah berhias dan sudah siap untuk menari.
Ketiga adalah Jang Ginada. Gerakan pada Jang ini menyimbolkan bahwa penari sudah ada di pura sudah untuk menari.
Keempat adalah Jang Tanding. Jang dari asal katanya “Tanding” yang artinya disusun, diatur, disesauaikan posisi dan komposisinya dalam.
Jadi arti Jang Tanding ini adalah pengaturan atau pembagian posisi menurut umur, seperti yang umurnya lebih tua berada di posisi paling depan dan yang lebih muda menyusul di belakangnya, atau bisa juga disusun dari yang paling tinggi badanya sampai yang paling rendah.
Kelima adalah Jang Lilit. Gerakan jang yang kelima ini artinya penari mulai menari dengan posisi melilit atau melingkar.
Keenam Jang Embatan Pejalin. Gerakan dalam Tari Jang merupakaan simbol tari menarik dengan sarana penjalin (Pohon Rotan).
Baca Juga: Misteri Pura Batan Bingin di Bali: Pantangan Mistis yang Tak Boleh Dilanggar
Selain itu, gerakan Tari Jang yang keenam ini mengambil bentuk seperti penjalin, dimana pohon rotan bisa lurus dan juga bisa dilengkungkan atau dibengkokkan.
“Begitu juga dalam gerakan Tari Jang. Embatan Penjalin ini, posisi gerakaannya bisa lurus dan bisa melengkung,” paparnya.
Jang Sirig Kuri Gerakan ini adalah gerakan Jang yang ketujuh, dimana posisi penari ada yang ke depan dan ada yang ke belakang dalam artian satu langkah ke depan dan satu langkah ke belakang atau gerakan maju mundur
Jang Lilit Nyali Gerakan ini adalah gerakan Jang yang ke delapan, kata “Nyali” artinya pahit. Jadi Jang ini memiliki makna untuk memantapkan gerakan Jang supaya pas (melilit dengan nyali).
Jang Pereret Gerakan ini adalah gerakan Jang yang ke sembilan, dimana posisinya ke samping atau ke kiri dan ke kanan dan maju mundur
Jang Embung Kelor Gerakan Jang yang kesepuluh ini sebagai simbol keseimbangan, dimana dalam gerakan ini sejenis gerakan sebagai perumpamaan bahwa penarinya sudah lelah dan penarinya bisa diistirahaatkan sehingga gerakan jang Embul Kelor ini agak pelan.
Jang Gedangring Gerakan ini adalah gerakan Jang yang kesebelas, dimana gerakannya maju mundur untuk menambah semangat para penari Rejang.
Baca Juga: Atlet Gianyar Borong Medali, Bonus Mengalir Deras
Jang Renteng Gerakan Jang ini adalah yang kedua belas, dimana gerakan ini gerakan mungundang Taksu
Jang Legong Gerakan ini adalah gerakan Jang yang ketiga belas. Pada gerakan ini sama seperti Jang Renteng. Anak-anak sudah tidak boleh lagi ikut menari.
Terakhir adalah Jang Legong Bantas. Gerakan ini adalah gerakan Jang yang paling akhir dalam Tari Jang. “Kata “Banatas” artinya batas, jadi gerakan yang digunakan sebagai batas, paling akhir atau pemuput,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika