Dosen wariga Bali Institut Agama Hindu (IAHN) Mpu Kuturan, Dr. I Made Gami Sandi Untara, menjelaskan bahwa Tulus Dadi bukan sekadar istilah simbolik, melainkan momen waktu sakral yang memiliki dasar perhitungan dalam sistem kalender tradisional Bali.
“Secara etimologis, tulus berarti tanpa halangan, bersih, dan langgeng, sedangkan dadi berarti jadi atau terwujud. Jadi Tulus Dadi adalah momentum waktu yang diharapkan membuat suatu pekerjaan menjadi berhasil dan berkesinambungan,” ujarnya saat diwawancarai.
Menurutnya, dalam struktur wariga, Tulus Dadi berkaitan dengan siklus Sanga Wara, yakni perhitungan sembilan harian dalam sistem penanggalan Bali. Karena mengikuti siklus tersebut, padewasan ini secara teoritis muncul setiap sembilan hari sekali.
Dalam satu bulan Bali, Tulus Dadi dapat hadir tiga hingga empat kali, tergantung kombinasi dengan unsur wewaran lain seperti Panca Wara, Sapta Wara, dan wuku.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak setiap kemunculan otomatis layak digunakan. Biasanya, Tulus Dadi itu terlihat ditulis warna merah di kalender Bali, yang memudahkan orang untuk mencarinya.
Misal, seperti hari Selasa 17 Februari 2026 adalah sangawaranya Tulus. Sedangkan pada Rabu 18 Februari 2026 Sangawaranya adalah Dadi. Kedua hari itu cocok dilakukan untuk berbagai kegiatan.
Selama ini, Tulus Dadi identik dengan pembangunan rumah, khususnya saat peletakan pondasi, pemasangan atap, dan tahapan pengurip-urip. Akan tetapi, menurut Dr. Gami Sandi Untara, fungsi padewasan ini jauh lebih luas.
“Tulus Dadi sangat baik untuk memulai sesuatu yang bersifat jangka panjang. Misalnya membuka usaha, membeli barang-barang, memulai jabatan baru, pindah rumah, bahkan menandatangani perjanjian penting,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa dalam konteks masyarakat agraris tradisional, Tulus Dadi juga digunakan untuk membuka lahan, menanam tanaman tertentu, atau memulai proyek produktif keluarga. Prinsip dasarnya adalah memilih waktu yang secara kosmologis mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan.
Lebih jauh, Dr. Gami Sandi Untara melihat Tulus Dadi bukan sekadar hitungan kronologis, melainkan kualitas energi yang berbeda pada setiap kombinasi hari.
“Wariga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh usaha manusia, tetapi juga oleh keselarasan dengan ritme kosmis. Tulus Dadi adalah simbol sinkronisasi antara niat, tindakan, dan waktu,” tegasnya.
Ia menambahkan, banyak masyarakat Bali, baik di desa maupun kota, masih berkonsultasi kepada ahli wariga sebelum memulai proyek penting.
Dengan demikian, Tulus Dadi bukan sekadar bagian dari kalender tradisional, melainkan representasi kearifan lokal yang terus hidup.
“Tulus Dadi itu seakan menjadi pengingat bahwa setiap awal yang direncanakan dengan kesadaran spiritual diharapkan melahirkan hasil yang tulus, berhasil, dan membawa ketentraman jangka panjang bagi pelakunya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika