DENPASAR, BALI EXPRESS – Sempat melambung tinggi, sejak beberapa hari terakhir harga daging ayam kini merosot tajam. Jika secara normal harga daging ayam mencapai Rp 35 ribu, kini hanya Rp 28 ribu per kilogram. Jatuhnya harga daging ayam dikarenakan rendahnya daya serap pasar. Padahal pasokan dari peternak masih tetap sama.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Broiler Bali Ketut Yahya Kurniadi mengatakan, serapan pasar terhadap daging ayam saat ini turun hingga 50 persen. Inilah yang menjadi penyebab pasokan menumpuk, hingga membuat harga merosot. “Sebelum pandemi Covid-19, serapan ayam bisa mencapai 200 ribu ekor per hari. Saat ini serapan menurun 50 persen, antara 90 ribu hingga 100 ribu saja per hari,” terangnya.
Padahal produksi peternak di Bali hingga saat ini masih berada di angka 140 ribu ekor per hari. “Artinya ada surplus sekitar 40 ribu ekor per hari,” imbuhnya.
Sementara itu, Luh Asri, salah seorang pedagang daging ayam di kawasan Denpasar Utara, Kamis (13/8) mengatakan, daging ayam yang dia jual kini mencapai Rp 27 ribu hingga Rp 28 ribu per kilogramnya. Diakuinya, turunnya harga daging ayam secara bertahap terjadi sejak beberapa hari lalu. “Sekarang sudah turun lagi. Dulu sempat mencapai harga Rp 35 ribu,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan salah seorang pedagang di Pasar Badung, I Gusti Ayu Suhaeni. Saat ini dia memang masih menjual daging ayam dengan harga Rp 30 ribu per kilogram. Harga tersebut turun, lantaran sebelumnya mencapai Rp 35 ribu per kilogram.
Meski harga turun, Gusti Ayu mengatakan, hal tersebut tidak membuat penjualan meningkat. Karena kondisi pasar yang masih sepi. “Pasar masih sepi, tidak ada uang untuk belanja,” ujarnya. Padahal pasokan masih tetap lancar.
Editor : Nyoman Suarna