DENPASAR, BALI EXPRESS — Kuliner nampaknya menjadi pilihan berbisnis yang menjanjikan. Tak sedikit artis yang menambah pundi-pundi kekayaannya dengan merambah dunia kuliner. Maka tak heran, dua putra Presiden RI, Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep memilih untuk menggeluti bisnis kuliner.
Keduanya, baik Gibran Rakabuming Raka maupun Kaesang Pangarep, fokus menggeluti bisnis kuliner khususnya untuk menu jajanan.
Menolak untuk berada di bawah bayang-bayang gelar ayahnya, kedua anak Presiden itu terbukti sukses dengan membuka gerai makanan dan hingga saat ini telah memiliki cabang di berbagai daerah. Di Bali sendiri, salah satunya.
Putra sulung Joko Widodo, Gibran, membuka cabang pertama Markobar di Bali pada Februari 2017 yang berlokasi di Jalan Teuku Umar No. 33, Denpasar. Tepatnya terletak di antara Gereja Baithani dan Steak Obonk. Selanjutnya, cabang kedua dibuka di Jalan Dewi Sri No. 21, Legian, Kuta, Badung pada Maret 2018.
Mengikuti jejak sang kakak, Kaesang juga membuka gerai pertama bisnis kulinernya, Sang Pisang, di Bali pada April 2018. Hingga saat ini, gerai Sang Pisang yang berlokasi di Ruko Graha Merdeka Unit C, Jalan Merdeka Renon, Denpasar, menjadi satu-satunya cabang Sang Pisang di Bali.
Semuanya berjalan lancar, namun kemudian pada Maret 2020, pertama pandemi Covid-19 ditemukan di Indonesia, perekonomian mulai melorot.
Mewabahnya pandemi di Indonesia mulai mematikan satu per satu sektor yang ada. Dampaknya, usaha gulung tikar, pekerja dirumahkan, dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Lantas, apakah usaha dari kedua anak orang nomor satu di Indonesia ini juga ikut tergilas?
Tim Bali Express (Jawa Pos Group) mencoba mendatangi satu per satu usaha milik Gibran dan Kaesang yang terletak di wilayah Bali tersebut. Lokasi pertama yang didatangi yakni gerai Markobar milik Gibran.
Nama Markobar diambil dari kepanjangan dari Martabak Kota Barat yang berasal dari daerah kelahiran Gibran, Solo. Berkonsep gerai kaki lima, Markobar sudah berdiri sejak tahun 1996.
Markobar khusus menyediakan jenis kudapan Martabak manis. Awalnya, Markobar merupakan bisnis keluarga generasi kedua yang dinakhodai Arif Setyo Budi, kemudian oleh Gibran dikembangkan dan terus diinovasi.
Menunya tersedia delapan rasa dengan kisaran harga Rp 80 hingga Rp 100 ribu untuk jenis premium. Ada juga empat rasa dipatok dengan kisaran harga Rp 80 hingga Rp 110 ribu. Rasa yang ditawarkan, mulai dari nutella, green tea, keju, ceres, dan aneka rasa cokelat lainnya.
Namun sayangnya, usaha putra Ptesiden Jokowi ini, juga terimbas pandemi Covid-19, dan tertutup rapat alias tidak operasional.
Gerai Markobar baik yang berlokasi di Jalan Teuku Umar maupun di Jalan Dewi Sri, tampaknya hanya tinggal kenangan. Bahkan, gerai yang berlokasi di Legian, Kuta tersebut sudah tidak tampak lagi. Tidak ada tanda-tanda usaha martabak pernah dibuka di sana.
Ditemui di lokasi, salah satu juru parkir, David, mengaku gerai Markobar tersebut sudah lama dihilangkan. Katanya, gerai yang terletak di antara mini market dan tempat makan mie itu sudah diambil sejak tiga minggu yang lalu. “Kiosnya diambil kira-kira tiga minggu yang lalu. Kapan tepatnya kios sudah tidak ada, saya tidak terlalu memerhatikan,” katanya, Minggu (28/3).
Pria asal Medan itu menambahkan, sebelum menjadi juru parkir, dia sempat berjualan di lokasi yang sama. Sejak saat itu, gerai Markobar memang sudah tutup. “Saya baru jadi juru parkir sebulan, tapi sebelum jadi juru parkir sempat jualan di sini setahunan. Waktu saya mulai jualan, kiosnya memang sudah tutup. Tapi baru tiga minggu lalu, kiosnya diambil,” jelasnya.
David mengaku tidak mengetahui pasti alasannya. Namun, dia mengira alasan tutupnya gerai tersebut dikarenakan terdampak pandemi Covid-19. “Pandemi kan sudah setahunan, mungkin karena terdampak pandemi jadi tutup,” tuturnya.
Ditelusuri di media sosial Markobar, @markobarbali, postingan terakhir dari akun tersebut yakni tertanggal 3 Agustus 2020. Berdasarkan postingan terakhir itu, disebutkan bahwa gerai di Dewi Sri buka kembali pada 1 Agustus 2020.
Namun, setelah postingan itu, tidak ada postingan lainnya yang terunggah. Padahal, di postingan sebelum-sebelumnya, tampak gerai Markobar ramai dikunjungi.
Disinggung terkait apakah dirinya mengetahui pemilik usaha tersebut, David mengakui dia hanya mendengar dari obrolan temannya. “Kalau itu (siapa yang punya) dibilang kawan-kawan sih, tapi saya kurang percaya. Menurut saya, jika memang punya anak Presiden sepertinya tidak mungkin tutup. Kalau Kaesang saya tahu, tapi kiosnya saya tidak tahu yang di Bali. Saya pernah lihat kiosnya di Medan saja,” ungkapnya.
Sementara itu, gerai Markobar dengan ciri khas warna hitamnya, terlihat masih berdiri kokoh di Jalan Teuku Umar. Namun, tidak ada lagi identitas yang menandakan bahwa Markobar pernah buka di daerah tersebut.
Dari luar, gerainya tampak kosong. Kendati bersebelahan dengan tempat makan dan apotek, tak banyak informasi yang bisa digali.
“Setahu saya dari Agustus tahun lalu sudah kosong,” ujar juru parkir asal Singaraja, Agus. “Katanya tempat Martabak sih, tapi saya kurang tahu karena tidak terlalu memerhatikan,” imbuhnya.(ika)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya