Bichito, Kedai di Rumah Lama Gajah Mada Buleleng yang Sajikan Kopi Lemukih

BALIEXPRESS.ID- Di Jalan Gajah Mada, Singaraja, berdiri sebuah rumah lama yang dulunya sekadar hunian keluarga.
Kini bangunan itu berubah wajah menjadi kedai kopi yang ramai didatangi anak muda.
Rumah tersebut milik Gede Ngurah Suhardiyasa, warga Kelurahan Beratan, yang disulap menjadi ruang ngopi bernama Bichito.
Baca Juga: Enam Kopdes Merah Putih di Bangli Terima Motor Roda Tiga, Pemanfaatan Tunggu Juknis
Kedai ini dikelola oleh Wayan Sudira bersama beberapa rekannya. Halaman rumah yang luas dan suasana teduh menjadi daya tarik tersendiri, terlebih di tengah kota Singaraja yang siang harinya kerap terasa panas menyengat.
Bangunan lama dengan sentuhan minim renovasi itu justru memberi nuansa berbeda dibanding kedai-kedai kopi modern yang menjamur belakangan ini.
Nama Bichito sendiri lahir dari proses pencarian identitas yang cukup panjang.
Baca Juga: Speed Boat Ditemukan Terdampar, Pencarian ABK Hilang di Perairan Banyuwedang Buleleng Masih Nihil
Sudira dan timnya sempat kebingungan menentukan nama yang belum dipakai oleh brand lain, mengingat industri kopi lokal sudah dipenuhi berbagai merek serupa.
Setelah melakukan pencarian di internet, mereka menemukan kata Bichito. Penemuan ini kemudian dijadikan dasar nama kedai, sekaligus menjadi pembeda dari brand-brand kopi lain yang sudah ada.
“Proses ini tidak lepas dari tantangan. Beberapa kali nama serupa sempat ditemukan sudah dipakai oleh usaha kopi lain, termasuk yang berada di Denpasar,” ujar Sudira, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: Terbongkar! Lansia di Jembrana Tipu Warga Modus Bedah Rumah dan Dana BOS sejak 2022
Hal ini membuat tim Bichito harus memastikan ulang keunikan nama dan izin penggunaannya, termasuk melalui pengecekan di media sosial seperti Instagram, sebelum akhirnya mantap menggunakan nama tersebut.
Yang membedakan Bichito dari kedai kopi lain adalah komitmennya mengangkat kopi lokal asal Lemukih, salah satu desa penghasil kopi di Buleleng.
Sudira mengaku ingin memperkenalkan cita rasa kopi Buleleng asli kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan kopi dari daerah lain.
Untuk mencapai rasa yang pas, ia memadukan biji robusta dan arabika. Perpaduan ini sengaja dipilih agar karakter kopi tidak terlalu kuat atau strong, sehingga bisa dinikmati lebih banyak kalangan, termasuk mereka yang belum terbiasa dengan kopi hitam pekat.
Pilihan menggunakan kopi Lemukih juga didasari oleh capaian kopi tersebut yang telah mendapatkan Indikasi Geografis (IG).



