Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dewabrata Bhisma

I Putu Suyatra • Minggu, 29 September 2019 - 18:36 WIB
Dewabrata Bhisma
Dewabrata Bhisma


SEKUAT-KUATNYA gada Bima. Sesakti-saktinya panah Arjuna, tak akan mampu menggores kulit Bhisma. Ksatria sesepuh bangsa Bharata, Putra Prabu Santanu dan Dewi Gangga itu terlampau sakti. Bahkan gurunya sendiri, Parasurama, tak mampu mengalahkannya.


Tapi Bhisma sadar, berdiri di pihak Kurawa dalam perang Mahabharata, hanyalah urusan formalitas kewajiban. Bahwa ia sudah bersumpah membela Hastina, apa pun sebab dan risikonya. Maka ketika Vasudewa Krisna mengingatkannya akan tanggungjawabnya yang lebih besar — yaitu menegakkan kebenaran — sesungguhnya Bhisma sudah merelakan hidupnya. Ia sadar, prinsipnya, sumpahnya, dan kesaktiannya kini menjadi penghalang bagi mekarnya kebenaran.


Maka malam itu, ketika terompet ditiup tanda pertempuran berhenti untuk istirahat, Vasudewa Krisna menuntun Yudistira dan Arjuna berjalan menyeberangi lapangan Kurusetra yang masih anyir bau darah, menuju perkemahan Kurawa. Adab Ksatria jaman itu mengatur, saat waktunya jeda pertempuran, para pihak yang berlawanan bersikap tanpa permusuhan, bahkan bisa bercengkerama, berbagi obat-obatan, dan saling mengobati — meski besok pagi orang yg diobati mungkin saja akan membunuhnya, atau sebaliknya.


Tiga Ksatria dari pihak Pandawa itu dengan sopan minta izin menghadap Bhisma. “Silakan masuk, Vasudewa. Terimakasih sudah menuntun cucu-cucu kesayanganku kemari. Aku sesungguhnya sudah memiliki firasat kalian akan datang.”


“Maafkan kami harus bertempur melawan eyang... “ kata Arjuna menunduk. Kata-katanya tercekat, tenggorokannya kering, air matanya tumpah. Ia ingat tadi siang dengan garang melepas ribuan anak panah ke arah kakek yang sangat dicintainya itu, meski tak ada satupun yang mampu menyentuh tubuh Bhisma. “Cucuku, Vasudewa mengetahui semua rahasia kebenaran. Ia menjadi kusir keretamu. Percayalah, kalau kamu melakukan hal yang salah, ia akan mengingatkanmu”


“Vasudewa..” kini pandangan Kakek Bhisma beralih ke arah Krisna. Ia tak mau hanyut oleh kesedihan cucunya tercinta. “Terimakasih sudah membukakan rahasia kebenaran tadi siang, di medan Kurusetra. Kau benar, Vasudewa. Aku bertanggungjawab atas perang ini. Meski niatku selalu baik, tapi kekakuan sikapku atas sumpah-sumpahku telah menjerumuskan bangsa Bharata pada perang besar ini”


”Arjuna, besok majulah ke medan perang bersama Srikandi. Kamu pastikan dia bisa menjangkau aku. Lindungi dia, lalu biarkan ia bertempur melawanku” kata Kakek Bhisma kembali menatap Arjuna.


Pandangan mata itu adalah pandangan penuh kasih sayang. Yudistira dan Arjuna merasa dipeluk dengan penuh kehangatan, sebagaimana masa kecil mereka dulu. “Nanti, Vasudewa akan memberitahu kalian alasannya, kenapa harus Srikandi yang melawanku” kata Bhisma menutup pertemuan.


 


Di perjalanan kembali ke kemah Pandawa, Yudistira dan Arjuna terus memendam tanya: mengapa Srikandi? Bila Arjuna saja tak mampu menyentuh Bhisma, apalagi Srikandi?


“Kakek Bhisma telah memutuskan memberikan hidupnya demi menangnya kebenaran. Di dunia ini hanya ada 1 orang yang bisa mengalahkan kakekmu yang maha sakti itu. Dialah Srikandi” Vasudewa membuka percakapan. “Kenapa Srikandi, Vasudewa?”


Lalu Vasudewa Krisna membuka lembaran-lembaran kisah Bhisma yang kelam. Bagaimana tanggungjawabnya pada kerajaan telah membuatnya menyakiti hati seorang putri Kasi bernama Amba, yang kini lahir dalam wujud Srikandi, dengan satu tujuan kelahiran : untuk menuntut balas. “Bhisma tidak akan menyakiti Amba dua kali. Ia tahu ini adalah waktunya penebusan dosa. Besok, ia akan membiarkan panah-panah Amba menembus tubuhnya. Dan itu juga akan membuka jalan bagi kemenangan kebenaran”


*


Para Ksatria, harusnya memegang buku saku berisi kisah kepahlawanan Bhisma, dan menjadikannya bacaan wajib. Kisah hidup seseorang yang menyerahkan hidupnya untuk memberi jalan bagi mekarnya kebenaran.


Mereka yang sudah terbukti salah dan kalah, tetapi tetap ngotot mengganggu, membuat huru hara, tidak tertib hukum, tidak mengikuti tertib konstitusi, harusnya belajar dan malu pada Bhisma. 5000an tahun sebelum Masehi, Itihasa Hindu sudah mengajarkan peradaban itu. Tapi di jaman modern dengan peradaban maju hari ini, kita kadang masih melihat orang-orang yang tanpa malu menginginkan apa yang bukan haknya, dan hendak merebutnya dengan berbagai cara.


Mereka tertinggal puluhan ribu tahun dari peradaban Itihasa.


*) Penulis adalah Sekjen Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI)

Editor : I Putu Suyatra