BALI EXPRESS, GIANYAR - Keganasan ombak di pesisir Gianyar kembali membuat satu pura hancur, dan terancam hilang. Kejadian ini menimpa Pura Kubu Mas, yang ada di wilayah Pantai Purnama, Sukawati. Hancurnya pura ini pun setidaknya menjadi pura ketiga yang rusak parah diterjang ombak di sepanjang pantai selatan Gianyar.
Ganasnya ombak di Pantai Purnama langsung terlihat saat Bali Express (Jawa Pos Group) memantau lokasi tersebut. Sebab di tengah angin yang berhembus kencang, ombak pantai di kawasan ini seakan siap memporak-porandakan apa yang dilewatinya.
Seperti yang tampak pada garis pantai dari titik Pantai Purnama hingga ke arah barat menuju ke Pura Kubu Mas, sejauh 200 meter lebih. Gulungan ombak besar sesekali juga naik ke pantai dan langsung menerjang areal pura.
Namun kerusakan terparah terlihat pada pura tersebut, khususnya di sisi selatannya. Mulai dari “hilangnya” halaman pura di sisi selatan, hingga candi kurung, dan penyengker yang sudah roboh diterjang ombak. Tak hanya itu. Tembok-tembok penyengker di sisi barat dan timur pura juga sudah tampak miring. Lantaran sebagian pondasinya dalam posisi tergantung, setelah pasir dan tanah di bawahnya habis tergerus ombak.
Made Suamir, warga Banjar Gelumpang, Sukawati, yang ditemui di lokasi mengungkapkan, abrasi dan ombak besar sudah menjadi pemandangan sehari-hari di sepanjang garis pantai tersebut. Bahkan menurut penuturan pria yang sehari-hari berada di Pantai Purnama, ini seingat dirinya di sisi selatan Pura Kubu Mas itu sebenarnya masih ada lahan sejauh 100 meter ke arah pantai, yang oleh masyarakat setempat disebut gagalan.
“Dulu dari areal pura ini sebenarnya masih ada halaman sejauh 20 meter, sampai di batu beton-beton tersebut (penahan abrasi yang sudah berada tengah laut, Red). Selain itu dari bis yang di dalamnya bersisi beton itu juga masih ada lahan gagalan sejauh kira-kira 100 meter. Tapi sudah sejak lama habis digerus abrasi,” ucapnya.
“Tapi abrasi yang menimpa pura ini sebenarnya dimulai sekitar seminggu yang lalu. Saat itu ombak secara perlahan menggerus halaman pura. Hingga akhirnya sekitar tiga hgari lalu, ombak merobohkan pemedal tersebut termasuk tembok di sisi kiri dan kanannya,” ungkapnya.
Bahkan melihat besarnya ombak, diyakini dalam beberapa hari ke depan, sebagian halaman utamaning mandala pura pun terancam ikut tergerus. Apalagi kemarin getaran begitu terasa di utamaning mandala yang kini langsung berhadapan dengan lautan lepas.
Dijelaskan olehnya Pura Kubu Mas sendiri sebenarnya bukanlah pura lama. Karena pura ini baru dibangun mulai 2007 lalu, dan proses pembangunannya selesai sekitar tahun 2009, yang dilanjutkan dengan karya. Karena itulah, dari pantauan kemarin, kondisi bangunan pura masih tampak terlihat baru. Sedangkan luas pura tak lebih dari 2 are dengan jumlah pelinggih lima buah, yakni satu buah Gedong Penyimpenan, Pelinggih Penyawangan, Pelinggih Penyawangan Ratu Kidul, dan beberapa pelinggih lainnya, termasuk Bale Pawedan.
“Pura ini sebenarnya baru, dan saat ini disungsung Ida Bagus Made Agung dari Banjar Gria, Sukawati, yang sekaligus pemangku di sini. Katanya sih, karena kejadian ini rencananya akan dipindahkan ke Sukawati,” paparnya.
Dari keterangan yang dia sampaikan, pura ini diceritakan terkait dengan Kerajaan Cawu. Sedangkan sejarah pembangunannya diawali dengan proses penggalian tambak yang ada di sisi utara pura. Saat proses penggalian tambak di areal yang dulunya disebut bekas kuburan itu, muncul batu yang dari segi ukuran tidaklah terlalu besar. “Tapi meski ukuran kecil, dan tak sebanding dengan alat berat yang digunakan untuk membuat tambak, tetap saja alat berat itu tak bisa mengangkatnya. Akhirnya setelah diupacarai, barulah batu itu bisa diangkat, dan selanjutnya batu itu yang dilinggihkan di Gedong Penyimpenan Pura Kubu Mas ini,” ceritanya.
Meski pura ini baru, diakui pria yang biasa disapa Amir, pura ini secara rutin tetap melaksanakan piodalan. Terlebih pemilik tambak yang disebut beragama Budha tersebut juga rutin melaksanakan persembahyangan di Pura Kubu Mas.
“Areal sini, apalagi di pura sebenarnya sangat tenget. Apalagi di wilayah ini masih sangat sepi,” paparnya.
Sekaligus berharap adanya bantuan pemerintah untuk memperbaiki pura tersebut.
“Terpenting, supaya grib pengaman pantai bisa dilanjutkan. Karena dari timur sana (Pantai Purnama) sampai jauh ke barat, sama sekali tidak dipasangi grib. Makanya abrasi dengan mudah terjadi,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra