Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Satu Pohon Leci Payangan Bisa Hasilkan Setengah Ton Buah

I Putu Suyatra • Rabu, 10 Juli 2019 | 04:25 WIB
Satu Pohon Leci Payangan Bisa Hasilkan Setengah Ton Buah
Satu Pohon Leci Payangan Bisa Hasilkan Setengah Ton Buah


BALI EXPRESS, GIANYAR - Pada waktu kepemimpinan Tjokorda Raka Derana saat listrik mulai dihubungkan ke Payangan, dan dilajutkan pada kepemimpinan Tjokorda Budi Suryawan (CBS) pohon leci sudah mulai ditebang. Hal itu pun disebabkan kepentingan masyarakat dengan tidak sabar ikut merasakan listrik. Sehingga sampai saat ini pohon leci bisa dihitung menggunakan jari tangan.


Tokoh Puri Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Dewa Rai Budiasa mengaku kepada Bali Express (Jawa Pos Group) sejak pembabatan itu keberadaan buah leci memang sudah mulai berkurang. Dengan demikian masyarakat yang memiliki pohon leci di depan rumahnya dengan lugunya mau menebang dengan harapan bisa menikmati listrik sampai sekarang.


“Begitu lugu saat itu, tidak dipikirkan jalan lain. Malah langsung dibabat. Sejak itulah pohon leci yang besar-besar pinggir jalan di Payangan ini mulai berkurang. Sampai akhirnya hanya disisakan beberapa saja. Tidak sampai 10 pohon leci saja dibiarkan di pinggir jalan yang tidak menghalangi tiang listrik dan jalan,” ungkapnya.


“Padahal leci adalah aset Payangan, bahkan salah satu sumber ekonomi yang kuat jika lebih banyak bisa dipertahankan. Ya akhirnya tersapu, dibabat,” imbuh pria yang lama berkarir di Jerman ini.


Selain di Puri Agung Payangan,  pada Jero Pengaji yaitu di rumahnya sendiri juga terdapat pohon leci besar. Ia mengaku leci tersebut temasuk pemberian dari keluarga Lie yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Mengingat salah satu keturunannya ada yang menikah dengan saudaranya terdahulu.


Keberadaan keluarga Lie atau Cik Giong di Payangan sangat berpengaruh dengan keberadaan Leci Payangan. Karena keluarga Lie boleh dikatakan yang mempromosikan leci ke pasar-pasar yang ada di beberapa daerah di Bali. Bahkan sampai luar Bali. “Waktu kecil saya sempat dijuluki raja leci. Karena di rumah saya saja ada enam leci ditanam. Sekarang hanya disisakan satu dan masih berbuah sampai saat ini,” jelasnya.


Pada usianya lima tahun silam, Dewa Rai pun mengaku mendapati pohon leci tersebut di rumahnya sudah segitu besarnya. Sudah dipastikan keberadaannya sudah ada sejak ratusan tahun lalu di sana. Begitu juga dengan kebaradaan buah leci waktu itu masih tetap berbuah setiap tahunnya.


“Kalau buah leci biasanya panen pada akhir tahun, Desember itu biasanya sudah masa panen. Waktu saya kecil sudah mulai dijual ke pasar di Denpasar. Makanya saya sempat ikut memetik buahnya, sisanya saya makan langsung, kanti tiyang med (sampai saya kenyang),” ujar ujar politisi sepuh Golkar ini.


Pria yang juga selaku seniman ini pun mengatakan sampai saat ini belum ada yang menemukan cara memelihara pohon leci secara khusus. Karena setiap tahun pada satu pohon leci bisa berbuah sekitar 3 ribuan buah leci dengan umur pohonnya mencapai empat lima tahunan. Jika kurang umurnya itu bisa buah leci tidak manis dan ukurannya kecil-kecil.


Ia berharap ke depannya agar ada pelestarian terhadap leci Payangan. Mengingat leci sebagai ikon Payangan sampai saat ini, namun hanya tinggal dipoles saja ke depannya untuk membangkitkan lagi. “Sekarang seharusnya sudah mulai lagi untuk mejadikan ciri khas Payangan sebagai bumi leci. Dengan satu rumah satu leci, kalau sekarang kan sudah ada teknologi dengan dipercepat pembuahannya. Sehingga umur pohonnya dua sampai lima tahun sudah bisa berbuah sangat banyak dan bisa ditanam pada perkebunan. Tidak mesti di halaman rumah,” urai dia.


Setiap panen ia mengatakan pohon leci bisa menghasilkan 500 kilogram buah. Dengan demikian bisa dikalikan dengan pohon leci yang ada sekitar 10 pohon leci besar. Harganya pun satu kilogram leci bisa mencapai Rp 30 ribu saat ini. Dijelaskan pada umumnya pohon leci memiliki tinggi 10 meter dan berdiameter selebar 1 sampai 2 meter.


“Kalau tempat lain ada ciri khasnya salak kalau kami di Payangan leci ini lah. Sampai sampai ada wine salak, setidaknya kita agar punya juga wine leci. Kalau bisa juga warga mulai menanam leci di perkebunannya masing-masing,” harapnya.


 


Untuk diketahui, hadiah leci itu diberikan pada abad ke-18 oleh keluarga Lie yang memiliki hubungan pertemanan sangat baik dengan penglingsir Puri Payangan. “Kepastian tahun, memang ada catatan menyebutkan sekitar abad 18. Namun ada catatan yang menyebut tahun1901. Pemberian keluarga Lie asal Tiongkok (China),” kata Salah satu tokoh Jero Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Dewa Rai Budiasa.


Dikatakan waktu itu dari keluarga Lie membawa cangkokan pohon leci ke puri hanya satu cangkokan saja. “Zaman itu ibaratnya sebagai buah tangan dari negara asalnya di Cina. Maka dihaturkanlah kepada Raja Payangan sebatang cangkokan pohon leci dan ditanam pada halaman puri,” tutur pria yang era mudanya banyak dihabiskan di Jerman ini.


Karena tumbuh dan menjadi besar, maka berbuahlah leci tersebut dipengaruhi juga dengan suhu udara yang ada di Payangan. Sehingga mulai berbunga dan sampai berbuah sangat banyak. Ketika dicoba, buahnya pun sangat manis persis buah yang dihasilkan oleh pohon asli di negeri asalnya.


 

Editor : I Putu Suyatra