DENPASAR, BALI EXPRESS – Imbauan penggunaan bahan ramah lingkungan untuk pembuatan ogoh-ogoh, disambut baik para Sekaha Teruna (ST) di wilayah Kota Denpasar. Seperti halnya ST Perabu di Banjar Ratna Bhuwana, Desa Sumerta Kauh, Denpasar. ST Perabu membuat kreasi ogoh-ogoh dengan memanfaatkan limbah kulit telur. Limbah ini mereka dapatkan dari pedagang nasi goreng, martabak serta warung-warung makan. Pembuatan ogoh-ogoh ini pun diperkirakan akan menghabiskan limbah kulit telur sekitar 30 kilogram. Seluruh badan ogoh-ogoh ditempeli kulit telur. Kuku tangan dan kaki dipilih menggunakan sabut kelapa. Sementara bagian kepala menggunakan tanah liat.
Ogoh-ogoh berukuran besar ini juga memiliki keunikan lainnya. Di dalam ogoh-ogoh yang berukuran 4,5 meter ini, terdapat satu ogoh-ogoh kecil. Ogoh-ogoh karya STT Perabu ini diberi nama Sang Bhakasura. Ogoh-ogoh ini mengisahkan kisah hidup Dewa Krisna yang ditelan oleh Raksasa Bhakasura. Untuk menyelamatkan diri dari dalam tubuh raksasa itu, Krisna membelah tubuh Bhakasura hingga mati.
Terbelahnya badan Bhakasura dalam wujud ogoh-ogoh itu dibuat dengan teknologi masa kini yakni Smartbreaker. Sebuah aplikasi yang digunakan untuk menyambung dan memutus aliran listrik dengan menggunakan jaringan WiFi atau internet. Sungguh canggih. Saat badan ogoh-ogoh Bhakasura terbelah, muncullah ogoh-ogoh kecil perwujudan Dewa Krisna dengan membawa cakra di bagian tangan kanan. Sementara tangan kiri menghunus ke atas, seolah-olah memutus kepala Bhakasura. Kematian Bhakasura tidak saja disimbolkan dari terbelahnya badan. Tapi juga dari terputusnya kepala dan terbukanya mulut Bhakasura yang dikendalikan melalui smartbreaker tersebut. Ogoh-ogoh yang nantinya akan diikutkan dalam parade di Desa Sumerta Kauh ini sangat kreatif, dan siap merebut gelar juara yang sebelumnya diraih ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod.
Kreator Ogoh-ogoh dari STT Perabu, Ngurah Yudha menjelaskan, penggunaan teknologi seperti mesin dan aplikasi Smartbreaker ini merupakan salah satu cara untuk menimbulkan efek gerak ogoh-ogoh. Selain itu, juga dijaman kekinian. “Sayang apabila teknologi tidak dimanfaatkan dengan baik. Supaya bisa bergerak. Jadi kami pakai mesin seperti mesin pompa air. Lalu pakai Smartbreaker yang pakai jaringan hotspot. Sekarang kan sudah zaman canggih, jadi bisalah kami pakai untuk karya ogoh-ogoh ini,” tuturnya saat ditemui, Minggu (23/2).
Ngurah Yudha menambahkan, dengan menggunakan teknologi ini resiko kegagalannya lebih kecil daripada alat yang dirangkai sendiri. Begitu juga dari segi harga. “Kalau manual atau merangkai sendiri, mungkin habis sekitar Rp 500 ribu. Kalau yang ini, cuma Rp 75 ribu. Kalau ditotal-total, habisnya kurang dari Rp 15 juta,” jelasnya.
Pengerjaan ogoh-ogoh Sang Bhakasura ini sudah rampung 80 persen. Rencananya, untuk hiasan lain yang akan digunakan yakni kain lukis dari Kamasan Klungkung yang dikombinasikan dengan tapis pohon kelapa. Ogoh-ogoh yang ditarget selesai tanggal 10 Maret mendatang ini telah didaftarkan untuk lomba ogoh-ogoh di Kota Denpasar.
Editor : Nyoman Suarna