Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Omed-omedan Hanya Tiga Pasangan, Diawali Guru Piduka

Nyoman Suarna • Jumat, 20 Maret 2020 | 03:58 WIB
Ritual Omed-omedan Hanya Tiga Pasangan, Diawali Guru Piduka
Ritual Omed-omedan Hanya Tiga Pasangan, Diawali Guru Piduka


DENPASAR, BALI EXPRESS – Tradisi Omed-omedan yang ada di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Selatan tetap dilaksanakan, walaupun ada imbauan dari pemerintah untuk menghindari keramaian. Untuk lokasi pelaksanaan Omed-omedan terdapat dua pilihan, yakni satu di depan bale banjar dan yang kedua di dalam bale banjar atau depan pura banjar. Selain melaksanakan ritual Omed-omedan, melihat kondisi sekarang dengan ancaman wabah Korona, maka sebelum melaksanakan tradisi, diawali dengan upacara Guru Piduka agar diberikan kekuatan dan keselamatan.


Tahun ini tradisi saling tarik dan peluk ini dilakukan hanya oleh tiga  pasang muda-mudi, yakni 3 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Keputusan itu sudah melalui paruman mendadak yang diadakan prajuru adat Banjar Kaja, sekaa teruna dan penglingsir banjar setempat, di Banjar Kaja, Desa Adat Sesetan, Rabu (18/3) malam.  Saat itu diputuskan, tradisi Omed-omedan tetap dijalankan. Namun ada beberapa hal juga menjadi keputusan dalam paruman itu, di antaranya, sebelum tradisi dimulai dilaksanakan upacara Guru Piduka, serta untuk pelaksanaan Omed-omedan yang biasanya melibatkan puluhan seka teruna (ST), diciutkan hanya menjadi tiga pasang ST.


Klian Banjar Kaja Sesetan I Made Sudama, ditemui Kamis (18/3), mengatakan, dalam pesangkepan juga diputuskan Banjar Kaja tidak berani meniadakan tradisi Omed-omedan. "Omed-omedan tetap dilangsungkan, tapi kami lebih menekankan pada ritual dengan perosesi sesederhana mungkin. Untuk jumlah peserta yang mengikuti Omed-omedan, dibatasi hanya tiga pasang. Kami juga tidak mempublikasikan untuk tahun ini, baik melalui media apapun. Intinya semua itu kita batasi," kata Sudama.


Ditambahkan Sudama, karena tradisi ini sudah menjadi agenda tahunan seusai Ngembak Gni atau sehari setelah Nyepi, dan masyarakat sudah tahu tradisi ini akan diatur. Sedangkan untuk festival dalam tradisi ini, diputuskan ditiadakan. "Jadi pasar paiketan, parade budaya dan undangan-undangan tidak ada lagi untuk tahun ini, baik itu pemerintah maupun undangan lainnya. Cukup hanya kami di internal saja atau banjar kami saja," ujarnya.

Editor : Nyoman Suarna
#nyepi #denpasar #tradisi