DENPASAR, BALI EXPRESS - Sejak dikeluarkan dari Rumah Tahanan (Rutan) Gianyar, Anak Agung Agus Satria Wibawa tak lantas berdiam diri di rumah. Selama tujuh bulan berada di Rutan Gianyar, ia aktif mengikuti kegiatan. Salah satunya memproduksi kerajinan yang bernilai ekonomi.
Pria yang kesandung kasus narkoba ini belajar dari sesama napi di Rutan Gianyar. Ketika pemerintah memberikan asimilasi kepadanya, ia melanjutkan kreatifitasnya mengolah koran bekas menjadi produk yang benilai jual tinggi. Untuk mengerjakan satu produk, ia membutuhkan waktu selama tiga hari hingga finishing.
Pertama, koran bekas yang didapat digulung padat menyerupai batang. Setelah itu, gulungan-gulungan koran direkatkan dengan menggunakan lem dan dibentuk. Ketika selesai direkatkan, kembali dikuatkan dengan mengoleskan lem kayu, lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Setelah kering, langsung dilanjutkan dengan proses pengecatan dan finishing vernis.
Pria yang akrab disapa Gung Dalem ini mengerjakan bokor dan keben (sarana persembahyangan untuk umat hindu) di rumahnya di kawasan Jalan Subur, Gang Mirah Kecubung I Nomor 9, Denpasar. Ia dibantu oleh istri serta orangtuanya. Hal ini salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang saat mendapatkan asimilasi serta menjalankan imbauan pemerintah untuk di rumah saja.
Ditemui di rumahnya, Gung Dalem terlihat sedang membuat kerajinan. Tangannya terampil, bahkan beberapa hasil kerajinannya yang sudah jadi dipajang. Dia mengatakan, keterampilan memproduksi kerajinan dari koran bekas ini didapatkannya dari sesama teman napi di Rutan Gianyar. Ia pun mengaku akan melanjutkan kreativitasnya sebagai salah satu usaha untuk menunjang perekonomian keluarga. “Saya belajar di rutan. Diajarin sama teman napi di sana juga. Saya lanjutkan sekarang. Astungkara bisa saya jadikan usaha nanti. Biar ada kesibukan selama di rumah,” ujarnya.
Gung Dalem pun memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil kerajinan yang ia buat. Hasil karyanya sudah banyak yang meminati. “Sejauh ini masih saya jual lewat online saja. Ada juga yang saya jual biasa. Baru sama keluarga dan warga sekitar rumah saja saya jual. Untuk model dan motif bisa request,” tambahnya.
Harganya pun terbilang murah. Untuk bokor dibandrol Rp 150 ribu, keben atau sokasi Rp 225 ribu dan pemuspaan atau tempat bunga Rp 50 ribu. Gung Dalem pun memberikan tips untuk merawat hasil kerajinannya. Cukup dilap dengan kain basah saja lalu diangin-anginkan. “Kalau dijemur, nanti dia bisa pecah. Boleh dicuci biasa, tapi jangan direndam. Karena ini kan kertas/koran, takutnya kalau direndam lalu ada celah, airnya masuk maka bisa rusak. Jadi lebih baik dilap saja,” sambungnya.
Selama menjalankan proses asimilasi, Gung Dalem masih tetap diawasi oleh Badan Pemasyarakatan Denpasar. Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Denpasar, I Gusti Arya Satriawan mengatakan, selama menjalani asimilasi diharapkan mereka tetap produktif dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. “Saya sangat apresiasi. Walaupun dirundung situasi Covid-19, diharapkan para napi ini tetap berada di rumah dan tetap produktif,” ungkapnya.
Sementara, Pembimbing Kemasyarakatan I, Komang Heri Trisantika menjelaskan, khusus untuk Gung Dalem akan diawasi sampai dengan bulan September mendatang sesuai dengan SK asimilasi yang didapat. “Kami mengawasi secara daring juga. Mereka memberikan laporan sebanyak 3 kali sehari. Supaya kami tahu aktivitas mereka selama berada di rumah. Mereka tetap wajib lapor,” ujarnya.
Editor : Nyoman Suarna