Desa Julah di Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng memiliki kisah yang mendalam tentang wabah mematikan atau masyarakat Bali mengenalnya dengan sakit gede. Dalam perjalanannya melawan wabah tersebut, Desa Julah berhasil melewati masa kelam itu dengan memanfaatkan pohon intaran atau mimba sebagai penawar wabah tersebut. Tidak diketahui, wabah apa yang menyerang masyarakat desa. Yang jelas wabah tersebut menular dan mematikan.
DIHUBUNGI via telepon, Kamis (3/9) siang, Klian Desa Adat Julah, Ketut Sidemen menceritakan, konon sebelum tahun masehi, Desa Julah pernah terserang wabah atau sakit gede. Wabah tersebut berbahaya dan menular dengan cepat. Bahkan bisa membuat orang meninggal dunia.
Karena penyakit yang menyerang warga itu menular, maka mereka diasingkan agar tidak menularkan kepada penduduk lainnya. Mereka diasingkan ke sekitar Ponjok Batu yang kini bernama Bangkah. Dalam pengasingan, mereka dirawat oleh seorang paranormal (balian sakti). Karena pada zaman itu di sekitar tempat pengasingan terdapat banyak pohon intaran, dan saat itu belum mengenal pengobatan lainnya, maka balian itu pun memanfaatkan daun, kulit serta buah intaran yang diramu dengan air tirta di tempat itu. Diberikanlah obat tersebut kepada mereka yang terserang wabah. Secara berangsur-angsur, warga yang terserang wabah akhirnya sembuh. Dari sanalah kemudian disadari bahwa pohon intaran dapat digunakan sebagai penyembuh penyakit. “Dulu ceritanya seperti itu. Ini menurut cerita rakyat yang dituturkan oleh tetua kami. Kebetulan ayah saya juga minum itu. Dan saya tahu betul itu. Karena dulu banyak yang disembuhkan oleh ramuan tersebut,” tuturnya.
Karena banyak yang sembuh berkat ramuan yang dibuat oleh balian sakti tersebut, maka orang-orang Julah pada saat itu berikrar/berjanji untuk menyakralkan pohon intaran. Upacara sekecil apapun di Desa Julah harus menggunakan daun intaran sebagai sarana upakara. “Kalau yang paling kecil itu kan canang, harus menggunakan daun intaran. Besar kecilnya banten harus pakai intaran. Itu sebagai wujud terima kasih orang-orang Julah kepada Tuhan karena telah menciptakan pohon intaran, dan pohon tersebut telah berjasa menyembuhkan warga dari wabah,” jelasnya.
Digunakan sebagai sarana upakara, daun intaran disandingkan dengan bunga-bunga harum lainnya. Ada tiga jenis bunga pokok yang digunakan, yakni bunga kembang sepatu (pucuk), bunga menuri dan daun temen. Masing-masing dari benda tersebut, menurut Sidemen, memiliki makna. “Intaran dalam canang itu digunakan untuk nyiratang tirta. Dikombinasikan dengan daun temen, kembang sepatu (pucuk), bunga menuri putih. Ada filosofinya itu. Kan ada warna hitam dari daun temen, merah dari pucuk dan putih dari menuri. Itu melambangkan dewa Tri Murti,” kata dia.
Selain digunakan sebagai sarana upakara, orang-orang Julah juga menggunakan daun intaran di telinga mereka saat berpergian keluar rumah. Hal itu semacam signal pengantar antara orang yang memakai daun intaran dengan Tuhan. “Dan orang Julah, jika berpergian, mereka menyematkan daun intaran di telinga. Itu semacam signal untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Ataupun untuk mencirikan orang tersebut adalah orang Julah. Serta meyakini daun inilah yang menyelamatkan mereka. Makanya kemana-mana mereka pakai daun intaran,” ujarnya.
Sidemen pun menuturkan kisah ayahnya yang tak pernah sakit karena rutin meminum air rebusan kulit pohon Intaran. Bahkan ketika banyak orang mengalami sakit kepala atau migran atau puruh, sang ayah tidak mengetahui bagaimana sakit tersebut. “Dulu ayah saya minum babakan intaran setiap hari dengan direndam. Diminum setiap pagi sebelum berangkat kerja. Ayah saya tidak pernah sakit. Sekarang saya juga minum itu. Dulu saya pernah mengalami sakit kepala/migran dan ayah saya tidak tahu itu sakit apa, karena beliau tidak pernah mengalami,” terangnya.
Pria 68 tahun yang juga pensiunan guru ini menyebutkan, tidak ada sumber tertulis yang menyebutkan tentang cerita pohon Intaran di Desa Julah. Cerita-cerita tersebut hanya tersebar dari mulut ke mulut secara turun-temurun. “Tidak ada yang menulis. Ini menurut cerita dari tetua saja,” ucapnya.
Menurut peneliti lontar, Sugi Lanus, gerubug memiliki arti wabah yang menelan kematian mendadak dan serempak, tak ditemukan gejala lama, langsung mewabah dan menewaskan. “Kata gerubug bisa dipakai ketika ternak mati mendadak serempak dan juga kematian manusia yang terjadi serempak dan mewabah,” paparnya.
Istilah gerubug banyak disebut dalam lontar-lontar Bali seperti Usada Buduh, Usada Rare, Usada Kacacar, Usada Tuju, Usada Paneseb, Usada Dalem, Usada Ila, Usada Bebai, Usada Ceraken Tingkeb, Usada Tiwang, Usada Darmosada, Usada Uda, Usada Indrani, Usada Kalimosaba, Usada Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala, Usada Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada Kuda, Usada Pamugpug, Usada Pamugpugan dan lontar lainnya. “Bali mengenal ratusan penyakit (gering) yang pernah menimpa Bali. Lontar-lontar ini adalah bukti kalau Bali pernah terpapar berbagai wabah. Salah satunya yang sangat ditakuti adalah gerubug,” kata dia.
Lontar Taru Pramana adalah salah satu lontar yang disebutkan sebagai ajaran suci dari Bhatari Ghori (Durga) yang diturunkan ke Mpu Kuturan ketika dunia dilanda gerubug. Dunia dilanda wabah cakbyag (mati di tempat) yang memakan korban sebagian warga. Melihat kejadian itu, Mpu Kuturan melakukan tapa memuja Bhatara agar diberi kekuatan penyembuhan. Ajaran yang diterima dalam tapa itu dikenal sebagai lontar Taru Pramana. Lontar ini menyebutkan setidaknya 202 tumbuhan di sekitar kita adalah obat yang mujarab yang bisa dipakai ketika masyarakat dilanda wabah.
Sugi pun menyebutkan, tidak saja di Buleleng, di wilayah Jimbaran dan Nusa Dua dahulu secara tradisional memakai “babakan intaran” (kulit batang intaran/nimba/mimba/nee) direbus sebagai bagian dari pencegahan dan pengobatan malaria. “Masyarakat pesisir di Bali rata-rata tahu manfaat intaran untuk pencegahan malaria dan meningkatkan imunitas. Terutama masyarakat desa Julah sangat dekat sekali dengan pohon intaran. Mereka menghormati pohon intaran sebagai penyelamat leluhur dari wabah yang menimpa desa mereka. Karena itu intaran di Julah disakralkan,” kata dia.
Penanggulangan Covid-19 saat ini dengan memanfaatkan intaran, papar Sugi, sejalan dengan terapi tradisional yang dilakukan para leluhur zaman dahulu. “Masyarakat Bali secara tradisional memakai babakan intaran (kulit batang intaran/nimba/mimba/nee) direbus sebagai bagian dari pencegahan dan pengobatan malaria. Atau rebusan daunnya. Ini terbukti ampuh. Terapi sekarang terhadap Covid-19 hampir di seluruh dunia memakai obat antimalaria dikenal sebagai chloroquine. Oleh karena itu, tidakkah terapi dengan rebusan daun intaran atau rebusan kulit batang intaran sejalan dengan logika penanggulangan Covid-19 yang berjalan secara klinis di rumah sakit?” ungkapnya.
Editor : Nyoman Suarna