DENPASAR, BALI EXPRESS- Menjelang hari raya Galungan, umat Hindu di Bali biasanya memasang Penjor di depan pintu masuk rumahnya. Berbagai perlengkapan disiapkan, mulai dari bambu, sampian, tamiang, gegantungan, lamak, plawa, hingga kelapa, dan sarana lainnya. Namun, belakangan tak sedikit umat yang asal pasang, tak memahami maknanya. Lantas, bagaimana sebaiknya yang dilakukan berkaitan dengan Penjor?
BACA JUGA : Taksu Poleng Bantu Cari Anak yang Disembunyikan Gamang
Menurut Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi, Badung, pemasangan Penjor bertujuan sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terimakasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
"Penjor Galungan ditancapkan pada hari Selasa atau Anggara Dungulan, saat Panampahan Galungan, yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan di lebuh di depan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung Penjor menghadap ke tengah jalan," urainya, kemarin.
Bahan Penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur atau daun enau yang muda, serta daun-daunan lainnya atau plawa. Perlengkapan Penjor seperti pala bungkah (umbi-umbian sejenis ketela rambat), pala gantung (kelapa, mentimun, pasang, dan lainnya), pala wija (jagung, padi, dan lainnya). Kemudian ada jajan serta saggah Ardha Candra, lengkap dengan sesajennya.
Pada ujung Penjor digantungkan sampian Penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu dengan bentuk dasar persegi empat, dan atapnya melengkung setengah lingkaran. Sehingga bentuknya menyerupai bulan sabit.
“Bambu melengkung tinggi adalah gambaran dari gunung yang tinggi sebagai tempat yang suci,” ungkapnya.
Ditegaskannya, membuat Penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara, memerlukan persyaratan tertentu. Tidak asal membuat, namun penjor tersebut mesti sesuai dengan ketentuan sastra Agama. Sehingga tidak berkesan hiasan saja.
“Unsur-unsur dalam Penjor merupakan simbol-simbol suci, sebagai landasan pengaplikasian ajaran Weda, yang mencerminkan adanya nilai-nilai etika agama,” ucapnya.
Makna dari simbol tersebut, lanjutnya, kain putih kuning yang terdapat pada Penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara. Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma. Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra. Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa. Plawa (daun-daunan) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
Sedangkan pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu. Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu. Sanggah Ardha Candra sebagai simbol kekuatan Hyang Siwa. Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sada Siwa dan Parama Siwa.
Dijelaskan Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, pemasangan Penjor seharusnya dilakukan sehari sebelum Galungan atau tepatnya saat Panampahan Galungan. Pemasangannya pun dilakukan setelah jam 12 siang. “Paginya kanp enampahan, sangat sibuk. Panampahan ini juga sebagai simbol menghilangkan sifat-sifat negatif yang ada dalam diri manusia. Setelah itu, mabanten sodaan, lalu mulai memasang Penjor,” pungkasnya.
Editor : Chairul Amri Simabur