DENPASAR, BALI EXPRESS - Memasuki musim penghujan saat ini, ratusan pohon perindang jenis tabebuya di pinggir jalanan Kota Denpasar mulai menunjukkan “kecantikannya”. Sebab pohon-pohon yang berjejer rapi dengan tinggi sekitar 6-7 meter, bunganya mulai bermekaran. Ada yang berwarna merah muda, kuning, ungu, merah pekat, maupun putih.
Keindahan itu langsung menjadi incaran beberapa warga yang menyadari keberadaan bunga-bunga tersebut. Bahkan beberapa warga menjadikan pohon dengan bunga warna-warni itu sebagai latar swafoto mereka.
Disebutkan, pohon ini sejatinya berasal dari Brazil, dan sangat cocok tumbuh di iklim seperti di Indonesia. Banyak yang mengaitkan tabebuya ini mirip dengan bunga ikonik dari Jepang, yakni Sakura. Padahal, sejatinya sangat berbeda.
Selain itu, dari manfaatnya juga berlainan. Jika Sakura lebih banyak dimanfaatkan sebagai minuman, ice cream maupun makanan, sedangkan tabebuya hanya sebagai tanaman peneduh maupun tanaman hias.
Bagusnya lagi, meski memiliki batang yang keras, akarnya tidak akan merusak jalan maupun tembok. Oleh karena itu, pemerintah daerah di berbagai provinsi di Indonesia lebih cenderung memilih pohon ini menjadi perindang di pinggir jalan.
Kabid Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, I Nyoman Agus Mahardika menjelaskan, mekarnya bunga tabebuya ini berlangsung saat memasuki bulan September hingga Desember. “Ya, ketika masuk musim hujan, bunga-bunganya sudah mulai bermekaran, sehingga menambah estetika juga, selain fungsinya sebagai pohon peneduh,” ujar Agus Mahardika.
Lanjutnya, di Kota Denpasar masih banyak titik di sepanjang jalan yang bisa ditanami pohon perindang. Salah satunya tabebuya, yang memang menjadi salah satu yang akan ditanam. Tapi, syaratnya adalah, pohon itu baru ditanam jika tingginya sudah mencapai 3 meter. “Sebenarnya bukan harus atau wajib tabebuya yang ditanam. Karena estetikanya saja, ketika saat mekar, bunganya bagus. Jadi membuat pemandangan kota juga menjadi lebih bagus,” paparnya.
Bahkan, jika ada warga yang ingin menanam di pekarangan rumahnya, sangat direkomendasikan. Karena selain sebagai tanaman hias, akar dari pohon tabebuya tidak akan merusak tanah maupun tembok dan juga dapat memproduksi oksigen yang banyak. “Meski estetikanya tinggi, kami tetap lakukan pemeliharaan. Jika dinilai sudah rimbun dan batangnya membahayakan, pasti dirompes. Supaya tidak membahayakan ketika angin kencang maupun hujan lebat,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna