Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rayakan Natal di Gereja Canggu, Umat Diatur Sistem Perwakilan

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 26 Desember 2020 | 08:05 WIB
Rayakan Natal di Gereja Canggu, Umat Diatur Sistem Perwakilan
Rayakan Natal di Gereja Canggu, Umat Diatur Sistem Perwakilan


MANGUPURA, BALI EXPRESS-Natal tahun ini yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangat umat Kristen untuk merayakannya. Tentu dengan tetap patuh protokol kesehatan (prokes). 


Seperti peribadahan di Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Babakan, Canggu, Kuta Utara. Umat tetap berdoa, meski dengan berbagai pembatasan demi mencegah penularan Virus Korona.


Romo Agustinus Bere Lau, dalam khotbahnya mengangkat tema tentang 'Datangnya Raja Damai'. Diterangkan, secara garis besar Yesus datang sebagai raja damai. Hal ini menurutnya patut diteladani dan diaplikasikan dalam kehidupan secara nyata. 


"Kita tidak bisa berhenti pada doa. Tapi kedamaian itu harus berusaha dipraktikkan dalam kehidupan di tengah keluarga, di tengah masyarakat. Dengan cara  itu, apa yang kita rayakan bermakna, bermanfaat. Tanpa semua itu sebenarnya Natal tidak berarti," ungkapnya, Jumat (25/12).


Dikatakan lebih lanjut, kedatangan Yesus di kala manusia dibagi-bagi dalam kelas atau kasta. Oleh karena itu, kelahiran Yesus tak di istana, melainkan di kandang yang hina.  Hal itu menunjukkan orang-orang yang miskin, orang yang sederhana, itu sangat mulia di mata Allah. "Mereka dicintai oleh Allah, mereka diperhatikan oleh Allah," kata  tokoh umat yang disapa Romo Abel.


Menurutnya, Tuhan tidak hanya mencintai orang yang kaya dan hebat. Tapi Allah, kata dia, juga ingin agar manusia belajar kerendahan hati. "Siapa kita di hadapan Tuhan? Tanpa Tuhan, kita ini bukan siapa-siapa. Tapi seringkali kita sombong melebihi dari Tuhan sendiri," ujarnya.


Terkait dengan pandemi Covid-19, lanjutnya, jangan hanya dilihat sisi negatifnya. Banyak hal yang bisa dipetik dari pandemi ini. Misalnya waktu berkumpul dengan keluarga, yang pada saat sebelumnya orang-orang disibukkan dengan aktivitas.


 "Keluarga-keluarga selama ini mungkin disibukkan dengan kegiatan, tapi sekarang bisa berkumpul di tengah pandemi. Banyak sebenarnya kalau dilihat secara positif, ada manfaatnya. Jangan hanya dilihat negatifnya," pintanya. 


Khusus saat ibadah di gereja, pihaknya selama ini telah menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah. Mulai dari mewajibkan umat menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan. "Saat ditetapkan pandemi sekitar bulan Maret, sampai saat ini kami di gereja tetap taat dengan protokol kesehatan," tegasnya.


Adapun umat Katolik yang menjadi jemaat di gereja tersebut berasal dari lima lingkungan sekitarnya. Per lingkungan terdiri dari rata-rata 40 kepala keluarga (KK). Namun, pada saat persembahyangan ke gereja, dibatasi dengan perwakilan. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#cucitangan #ingatpesanibupakaimasker #ingatpesanibujagajarak #cucitangandengansabun #satgascovid19 #wajibmenghindari kerumunan #ingatpesanibucucitangan #wajibmenjagajarak #ingatpesanibu #jagajarak #pakaimasker #wajibmencucitangandengansabun #jagajarakhindarikerumunan #wajibmemakaimasker