Objek wisata itu dibangun menggunakan anggaran dari Puspa Aman Pemkab Gianyar dan Dana Desa yang dulunya merupakan lahan terbengkalai. Lahan itu pun disulap menjadi objek wisata yang diharapkan dapat menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat.
Perbekel Desa Sidan, Made Sukra Suyasa menjelaskan bahwa lahan terbengkalai itu sebelumnya penuh dengan pohon dan tanaman liar. Kemudian pihaknya berinisiatif mengubahnya menjadi restoran dengan pemandangan terasering. Terlebih sertifikat desa wisata untuk Desa Sidan sudah terbit tahun 2019 lalu. Disamping itu Desa Sidan yang dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Gianyar yang kerap menjamu tamu pemerintahan. "Awalnya kita selalu bingung kalau menjamu tamu. Karena tidak ada tempat. Dan karena Desa Sidan sudah menjadi desa wisata, maka sekarang bangkitkan lagi dengan format baru," ungkapnya saat ditemui Selasa (22/3).
Format baru yang dimaksud adalah memadukan semua potensi yang ada termasuk obyek rintisan baru. Setelah mengkonsep seluruhnya, pada bulan Juli 2021, Sukra Suyasa pun mengumpulkan warga untuk kemudian melakukan pembabatan tanaman dan pepohonan liar yang menyebabkan lahan itu selama ini terbengkalai. "Stage sebelumnya kami perbaiki dengan konsep terbuka, penataan taman dilengkapi dengan aneka kuliner dan area parkir," bebernya.
Pihaknya menggunakan anggaran Puspa Aman sekitar Rp 70 Juta dalam penataan awal. Selanjutnya pihaknya menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD) sebanyak dua kali, takni di tahun 2021 sekitar Rp 250 juta. Kemudian di tahun 2022, pihaknya menggunakan 20 persen dari ADD. Dimana tahun ini Desa Sidan mendapatkan ADD sekitar Rp 860 Juta.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan jika yang menjadi potensi rintisan baru adalah gerai Puspa Aman dengan luas lahan sekitar 3 hektar, yang mana lahannya milik desa dan bantuan bibit dari Pemkab Gianyar. Potensi lain adalah display pertanian organik dilengkapi museum subak dan pengunjung bisa melalukan tanam padi atau matekap pada musim yang sama. “Kita juga mengembangkan
Taman Gumi Banten. Dimana spot ini dengan lahan seluas 1 hektar, yang ditanami tanaman upakara, tanaman langka dan tanaman pendukung untuk upakara yadnya. Pada beberapa obyek juga kami sediakan tempat swapoto, yang nantinya kalau sudah berjalan akan dipandu Pokdarwis Desa Sidan," papar Suyasa.
Pihaknya pun tak menutup pintu untuk masuknya investor ke objek wisata tersebut. “Jika ada investor yang ingin berinvestasi kita tetap buka, asalkan tidak merusak Desa Sidan sebagai areal pertanian. Pariwisata adalah bonus dari pertanian," tandasnya.\[- Editor : I Dewa Gede Rastana