Warisan budaya tak benda ini tentu saja tak lepas dari unsur niskala. Puluhan orang menangis histeris, berteriak saat kerauhan terjadi saat pelaksanaanya. Pemandangan orang menusuk diri dengan keris adalah lumrah terjadi saat tradisi Ngerebong ini dilakukan. Kejadian ini pun menjadi tontonan ribuan orang yang datang pada Minggu kemarin.
Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan kali ini tradisi Ngerebong dilakukan dengan meriah. Selain krama dari Desa Adat Kesiman, dihadiri juga dari Pemogan maupun Sanur.
"Untuk Ngerebong kali ini kami sudah prediksi akan dibanjiri oleh krama. Maka dari itu kami buat sistem untuk mengatur krama, khususnya kepada mereka yang tangkil untuk sembahyang," ujar Ketut Wisna.
Untuk warga Kesiman, persembahyangan dilakukan pagi hari hingga siang. Setelah itu, dilanjutkan bagi krama di luar Desa Adat Kesiman. "Ini berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya," beber Wisna.
Sebelumnya atau saat pandemi merebak, tradisi Ngerebong sempat dilakukan secara Ngubeng. Alhasil, banyak pemangku mengalami kerauhan bahkan saat berada di rumahnya.
Tradisi Ngerebong ini digelar setiap enam bulan sekali tepatnya pada Minggu Pon Medangsia. Prosesi ini digelar mulai pukul 16.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 19.00 Wita. Selain puncak acara Ngerebong, sebagai rangkaian digelar Lomba Penjor Pengerebongan antar STT se-Desa Adat Kesiman.
Untuk juara pertama diraih Banjar Meranggi, disusul juara kedua dan seterusnya yakni Banjar Kesambi, Banjar Kebonkuri Luk-luk, Banjar Ujung, Banjar Cerancam, dan Banjar Tanguntiti. Editor : I Dewa Gede Rastana