Pastur Paroki, Romo Adiatnto Paolus Harun mengatakan, kegiatan ini sempat vakum selama 17 tahun. Tablo ini mengisahkan Kisah Sengsara Yesus dalam menyelamatkan umat manusia. Karena cinta Yesus yang begitu besar kepada umat manusia yang berdosa, maka rela menanggung penderitaan. Mulai dari dipukul, disalip, dan akhirnya meninggal. “Tablo ini mau mengingatkan umat Katolik akan betapa besarnya pengorbanan Kristus untuk nenyelamatkan umat manusia. Dia rela mengambil bagian dalam penderitaan umat manusia, sehingga manusia itu dapat kembali kepada makna dasarnya yaitu sebagai orang orang yang dicuptakan oleh Allah,” ujar Romo Adianto.
Menurutnya, penderitaan yang dialami Yesus ini menjadi simbol penderitaan manusia akibat dosa, kelemahan dan kerapuhan. Yesus menderita melalui disalip ini ingin mengangkat dan membebaskan manusia dari dosa. Sehinga manusia boleh mengalami keselamatan dan kehidupan seperti anak-anak Allah yang sejati.
“Sehingga harapannya umat semakin tergugah merenungkan penderitaan Kristus dan terutama berjuang untuk menjalani hidup yang lebih baik. Sehingga mereka dapat mengalami keselamatan sesuai yang dijanjikan dan juga dialami oleh Yesus sendiri. Dalam peristiwa paskah, Ia mati lalu bangkit membawa orang-orang kepada kemuliaan dan keselamatan,” jelasnya. Seraya mengatakan memperingati Hari Paskah dimulai sejak Rabu, Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah, dan Hari Paskah itu sendiri pada Minggu (9/4).
Sementara Ketua Panitia Fransisco Andika Putra menerangkan, telah dilakukan sejumlah persiapan dalam menggelar Tablo tersebut. Bahkan persiapannya telah dimulai dari 11 Februari 2023 dengan melaksanakan open casting. Pemilihan pemeran dilakukan pada kelompok usia 16-50 tahun. Untuk pemerannya ada 38 orang, dari usia. “Puji Tuhan teman-teman memiliki semangat untuk memainkan Tablo, jadi banyak yang daftar,” terangnya.
Lebih lanjut pihaknya mengakui, memang mengalami kesulitan menampilak Tablo ini. Apalagi sudah 17 tahun tidak dilaksanakan. “Kesulitan pertama, ikita yang pasti mencari dana. Kedua, kesulitan meyakinkan orang tua dan warga gereja bahwa kita bisa bangkit lagi dengan tablo ini. Kita bisa menciptakan tablo yang baru dengan generasi kita. Ketiga, kesulitan kita membuat naskahnya. Karena para pendahulu yang 17 tahun yang lalu itu, naskah dan barang-barang lainnya sudah tidak ada,” jelasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana