Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nungkalik Festival Digelar di Bibir Pantai Segara Ayu

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 21 April 2023 | 03:08 WIB
FESTIVAL : Pelaksanaan Nungkalik Festival di Pantai Segara Ayu, Sanur, Denpasar, Kamis (20/4). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)
FESTIVAL : Pelaksanaan Nungkalik Festival di Pantai Segara Ayu, Sanur, Denpasar, Kamis (20/4). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)
DENPASAR, BALI EXPRESS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar Nungkalik Festival, Kamis (20/4). Kegiatan itu digelar di pesisir Pantai Segara Ayu, Sanur, Denpasar.

Ketua BEM ISI Denpasar, Putu Durga Laksmi Devi, menjelaskan Nungkalik Festival ini mengambil tema Penumbra’s Final Gloom. Yaitu menjangkar konsep eksperimental umbra. Fenomena umbra dan penumbra pada peristiwa Gerhana Matahari total pada Kamis  kemarin juga memberi inspirasi pada dunia kreatif.

“Kenapa kata Nungkalik dipilih sebagai bingkai festival seni yang bersifat eksperimental?, karena makna kata tersebut. Nungkalik yang mengandung makna berlawanan dengan prinsip-prinsip seperti, siang-malam, laki-perempuan. Bagi penulis, bukanlah dualisme yang ingin ditonjolkan. Tapi sebuah realitas konkrit yang memiliki dua aspek saling berkaitan,” jelas mahasiswi asal Klungkung ini.

 

Dengan menampilkan berbagai perspektif baik dalam proses penciptaan karya hingga karya tersebut diperkenalkan kepada masyarakat umum. Akan memberikan sebuah jawaban kebutuhan pelaku seni dalam merespon fenomena-fenomena yang kini tengah terjadi.

 

Berlandaskan pada kajian makna Nungkalik, kata kunci yang didapatkan adalah eksperimental berdasarkan konsep kuat, melalui riset medium yang rigid. Hal ini dapat terlihat dari usaha BEM ISI Denpasar untuk memperkenalkan seni konseptual Nungkalik yang tentunya berbeda dengan seni komersial pada umumnya.

 

“Seperti yang kita ketahui, bulan April 2023 memiliki banyak berkah bagi berbagai kalangan, dimulai dengan merayakan bulan suci Puasa Ramadhan bagi umat Muslim sejak 23 Maret 2023. Upacara Karya Ida Betara Turun Kabeh di Pura Besakih oleh umat Hindu pada bulan Purnama ke dasa di 5 April 2023, hingga Hari Jumat Agung pada 7 April 2023 bagi umat Kristiani,” imbuhnya.

 

Tak berhenti disitu, lanjut Devi,  pada Kamis kemarin juga kita berkesempatan melihat Gerhana Matahari Hibrida yang terjadi setiap 8,8 tahun sekali. Fenomena langka yang terjadi ketika posisi bulan berada di dekat matahari, maka matahari akan tampak seperti lingkaran cincin yang terbakar di langit.

 

Dalam hal ini, mahasiswa ISI Denpasar berkesempatan untuk memaknai fenomena Gerhana Matahari dengan menampilkan performance tarian kontemporer yang terdiri dari tiga jenis tarian dan ditarikan setelah berakhirnya bayangan Panumbra. Yaitu Tari Langit-Lelangit sebagai simbol Dewa Brahma mencari Hyang (kebenaran) dengan menggambar menggunakan asap obor.

 

Tarian Sunari adalah tarian yang menggerakkan bambu berlubang untuk mengukur keberadaan Dewa Siwa melalui bunyi angin. Kemudian Tarian Suryakanta merupakan tarian yang merajah tanah dibantu dengan energi matahari atau Dewa Surya dalam upaya Dewa Wisnu mencari Hyang (kebenaran) ke bawah.

 

Berkaitan dengan Tarian Suryakanta, pada tanggal 22 April 2023 merupakan Hari Bumi sedunia, sebagai calon seniman, maka para mahasiswa ISI Denpasar Merajah Bumi dengan cahaya matahari yang telah mengalami momentum animistik. Memunculkan irama gerak yang diiringi dengan musik yang penuh dengan irama energi alam semesta.

 

Selain menampilkan karya konseptual eksperimental , ruang Nungkalik yang dibuka oleh Rektor ISI Denpasar akan lebih dimatangkan dengan mengadakan Open Space mengenai “Apa itu seni?” oleh dua narasumber. Yakni  Dr. I Wayan Sujana (Suklu) S.Sn., M.Sn dan Ketut Sumerjana, S.Sn., M.Sn.

 

Sementara Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, menyampaikan festival tersebut sangat bagus digelar di ruang terbuka. Terlibat dengan bekerja bagaimana masalah lingkungan.

 

“Laboratorium itu bukan berupa ruang kelas, namun seberapa mampu menggapai landscape Bali ini.  Lab itu ruang alam dan  ruang manusia Bali, kita bertemu dalam ruang yang sangat indah. Berbeda di kelas hanya mampu menghadirkan landscape Bali dalam imajinasi saja,” pungkasnya.
Photo
Photo
Editor : I Dewa Gede Rastana
#di Bibir Pantai #Nungkalik Festival #Segara Ayu #digelar