Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dewan Bangli Minta Penjelasan Investor soal Pembangunan Resort di TWA Gunung Batur

I Made Mertawan • Rabu, 26 Juli 2023 | 19:04 WIB
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika (tiga dari kanan) memimpin rapat dengan BKSDA dan PT Tanaya Pesona Batur, Selasa 25 Juli 2023.
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika (tiga dari kanan) memimpin rapat dengan BKSDA dan PT Tanaya Pesona Batur, Selasa 25 Juli 2023.

BANGLI, BALI EXPRESS- DPRD Bangli menggelar rapat dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan PT Tanaya Pesona Batur,  Selasa 25 Juli 2023. Ini sebagai tindak lanjut aspirasi sejumlah warga yang menolak pembangunan resort di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur, Kintamani, Bangli.

Rapat dipimpin Ketua DPRD Bangl I Ketut Suastika, didampingi Wakil Ketua I Komang Carles. Hadir pejabat dinas terkait, yakni Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan I Wayan Sugiarta dan Plt Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Jetet Hiberon. Sementara dari BKSDA hadir Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Bali Sulistyo Widodo, dan Ida Bagus Putu Agastya selaku direktur PT Tanaya Pesona Batur.

Ida Bagus Agastya mengatakan, tempat wisata dengan konsep ekowisata itu akan dibangun di lahan seluas 85,66 hektare. Lahan itu sesuai izin dari kementerian terkait. Di sana akan dibangun beberapa fasilitas di antaranya tempat pemandian air panas, ampiteater untuk pagelaran seni yang bisa menampung 1000 orang, glamping, penginapan dan fasilitas lainnya.  “Yang bisa dimanfaatkan untuk sarana usaha hanya 10 persen (10 persen dari 85,66 hektare). Sisanya tidak boleh dibangun, tetapi tetap dijaga,” jelas Agastya.

Semua fasilitas di sana menerapkan konsep ekowisata. Pembangunannya dilakukan bertahap dan target rampung 2025.  “Tanpa harus mengubah tekstur, kontur alam, tapi mengikuti sehingga menjadi sesuatu yang lebih keren,” lanjutnya.  

Dalam mengembangkan usaha itu, perusahaan ini akan berkolaborasi dengan masyarakat yang secara turun-temurun tinggal dan menggarap lahan pertanian itu. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan tersebut ada kewajiban melakukan pemberdayaan masyarakat dan mengakomodasi kepentingan sosial.

Berdasarkan data yang didapat perusahaan ini dari BKSDA, terdapat 47 KK menggarap lahan di areal 85,66 hektare itu. Luasnya lahan pertaniannya sekitar 3,7 hektare dan menyebar di beberapa titik. PT Tanaya ingin lahan pertanian itu dikelompokkan dalam satu areal.

Di sini lah persoalan mulai muncul hingga terjadi penolakan yang versi Gustu-sapaan akrab Ida Bagus Putu Agastya- sekitar 85 persen warga di kawasan itu telah sepakat lahannya dipindah ke areal yang disiapkan perusahaan. “Kalau memang tidak mau bergabung dengan yang disiapkan, boleh memilih lokasi (lahan) lain,” kata Gustu.

Gustu juga memastikan bahwa warga tinggal menanam di lahan yang baru. Tidak perlu lagi berpikir mencari sumber mata air dan membuat saluran irigasi. Semua sudah dirancang oleh investor. “Mereka cukup bertani,” tegas Gustu.

Selain itu, perusahaan ini juga bersedia menyiapkan tempat semacam foodcourt khusus untuk 47 warga itu. Begitu pula tenaga kerja, dipastikan menjadi prioritas. Hanya saja, tawaran itu masih belum bisa diterima oleh semua warga yang sudah secara turun-temurun menempati kawasan itu.

Gustu mengakui sudah berulang kali sosialisasi melibatkan unsur pemerintah desa dinas, desa adat di kawasan itu, termasuk warga terkait. Sosialisasi dilakukan secara formal maupun informal. 

Setelah mendapat penjelasan dari pihak investor, Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika mengingatkan investor supaya poin-poin yang nanti menjadi kesepakatan antara investor dengan warga supaya dituangkan dalam perjanjian kerja sama. Dibuat secara rinci agar tidak menjadi persoalan di kemudian hari. “Kami di Bangli butuh ada yang berinvestasi, tapi tidak mengabaikan dampak sosial,” kata Suastika.

Suastika juga mengingatkan BKSDA agar terlibat dalam sosialisasi ini sesuai tugas dan fungsinya. Misalnya menyampaikan kepada warga soal legalitas mereka menggarap lahan yang sebenarnya lahan negara.

Tak jauh beda dengan Suastika, Carles juga mengingatkan PT Tanaya lebih gencar sosialisasi dengan pemerintah desa dan warga agar mereka paham betul soal rencana pembangunan itu.

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga mendatangi kantor DPRD Bangli Senin 24 Juli 2023 lalu. Mereka menolak pembangunan resort di TWA tersebut. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#Kintamani #bangli #bksda #wisata #gunung batur