SINGARAJA, BALI EXPRESS - Puluhan orangtua siswa di Dusun Rawe, Desa Ringdikit dan Dusun Bukit Sari, Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt, bergotong royong membangun jembatan.
Desa Ringdikit sendiri berada di Kabupaten Buleleng Bali,
Seperti diketahui, Buleleng adalah kabupaten paling utara Pulau Bali.
Jembatan yang dibuat untuk jalan alternatif bagi siswa dan siswi di SDN 5 Ringdikit.
Akses yang dibuat melintasi sungai Saba menuju sekolah itu dilakukan secara swadaya. Mereka mengumpulkan dana lalu digunakan untuk membeli beberapa material.
Jembatan yang digunakan oleh siswa itu sebelumnya telah dibangun beberapa tahun lalu.
Namun jembatan itu bersifat darurat sembari menunggu pembangunan permanen.
Selain digunakan sebagai jalan pintas menuju sekolah, jembatan itu juga digunakan oleh masyarakat sebagai penghubung antar desa, yakni desa Lokapaksa, Ringdikit dan Ularan.
Setelah bertahun-tahun, jembatan itu pun kembali putus.
Usia jembatan yang sudah lama dan materialnya telah lapuk dapat membahayakan seseorang yang melintas.
Putusnya jembatan itu disikapi masyarakat setempat dengan kembali membangun jembatan darurat.
“Dulu ada tapi sudah rusak. Kami buat jembatan darurat dari kayu supaya siswa bisa nyebrang. Tapi karena arus sungai besar, banjir, jembatan darurat hanyut. Tidak ada jembatan lagi. Akhirnya muncullah inisiatif untuk gotong royong,” terang Perbekel Desa Ringdikit, Putu Sumadi saat dihubungi, Selasa (29/8) siang.
Meski dengan dana yang minim, masyarakat yang dominan orangtua siswa itu berupaya agar akses jembatan itu terealisasi.
Selama ini para siswa dari desa Lokapaksa menggunakan jalur dengan menyeberang sungai untuk menuju sekolah.
“Akses ini sangat dibutuhkan bagi siswa. Kalau mereka menggunakan jalan utama malah sangat jauh. Harus keluar desa dulu, keliling, baru sampai di sekolah. Kalau menyeberang sungai lebih dekat. Karena sekolahnya ada di seberang sungai itu. Maka dari itu kami sangat membutuhkan fasilitas ini,” kata dia.
Upaya swadaya untuk membangun jembatan itu sudah dilakukan sejak minggu lalu. Beberapa ban bekas terlihat di cor menggunakan beton.
Ban itu kemudian disusun melintasi sungai agar siswa dapat menyeberang.
“Ya saling sumbang sedikit-sedikit. Itu digunakan beli bahan agar siswa bisa bersekolah lewat akses ini. Kami berharap pemerintah bisa membantu kami, karena Dana Desa tidak bisa kami gunakan untuk ini,” imbuhnya.
Konon anggaran untuk pembangunan jembatan ini sudah dianggarkan. Namun tiba-tiba anggaran tersebut hilang dan berdampak pada batalnya pembangunan jembatan pada bentangan sungai selebar 50 meter. Kemungkinan anggaran tersebut digeser lantaran pandemi Covid-19.
“Itu tahun 2020. Kemungkinan karena korona itu hilang. Kalau tidak salah Rp 1,5 miliar dari pusat. Kami berharap persoalan ini bisa segera diatasi. Kami prihatin dengan siswa-siswa yang harus berjuang untuk ke sekolah,” ungkap Sumadi.
Editor : I Putu Suyatra