Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Teknologi Trashkleng, Inovasi Pengelolaan Sampah Dari Desa Sinabun

Dian Suryantini • Kamis, 28 September 2023 | 23:26 WIB
INOVATIF : Ketut Cana dengan teknologi Trashkleng. Inovasi pengelolaan sampah yang diciptakan dan berhasil menjadi juara nasional dalam lomba Teknologi Tepat Guna.
INOVATIF : Ketut Cana dengan teknologi Trashkleng. Inovasi pengelolaan sampah yang diciptakan dan berhasil menjadi juara nasional dalam lomba Teknologi Tepat Guna.



SINGARAJA, BALI EXPRESS – Persoalan sampah memang tidak ada habisnya. Ibarat jamur yang terus tumbuh di segala musim. Berbagai inovasi serta bank-bank sampah dibentuk dengan tujuan dapat menangani sampah.

 

Satu inovasi muncul lagi dari Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng. Inovasi ini dibuat oleh Ketut Cana. Pria berusia 34 tahun itu menciptakan teknologi pengelolaan sampah yang disebut Trashkleng. Karya inovasi dari pria berkacamata ini pun berhasil menjadi jawara dalam Lomba Teknologi Tepat Guna Nasional belum lama ini.

 


Dilirik dari namanya, teknologi ini tentu tidak sama dengan makna ungkapan bahasa Buleleng. Trashkleng berasal dari kata Trash yang artinya sampah. Dan Kleng berasal dari dialek Keling yang artinya kembali ke semula. Jika diartikan secara utuh maka Trashkleng adalah teknologi pengelolaan sampah yang mengingatkan untuk mengembalikan sampah ke posisi semula.

 


Teknologi ciptaannya itu dibuat dengan modal Rp 2 juta. Sementara ia belajar menciptakan inovasi tersebut dari YouTube dengan menggunakan bahan seadanya. Alat ini dibuat dari kotak telur yang dirangkai dengan mikrokontroler. Alat itu berfungsi untuk mengontrol proses pemanasan sampah menjadi filamen (serat sampah).

 

Selanjutnya alat tersebut disambungkan ke komputer agar dapat mencetak desain 3D.
“Ke depannya tidak hanya lewat 3D filament saja, saya berencana menciptakan karya lainnya yang bersumber dari sampah, tentunya menarik dan mengikuti perkembangan pasar. Saya masih terus belajar, intinya Saya ingin karya Saya bisa memberdayakan masyarakat,” harap Ketut Cana, Kamis (28/9) siang.

 


Peluang usaha dari pemanfaatan teknologi Trashkleng ini cukup besar. Pria kelahiran 2 Desember 1989 itu pun mengaku terus berinovasi dari filamen yang dihasilkan. Saat ini ia masih memproduksi benda-benda seperti vas bunga, patung hingga frame kacamata.

 


“Kalau barang-barang itu dari sampah botol plastik seperti air minum atau softdrink. Yang terdapat kandungan PET atau Polyethylene Terephthalate,” trangnya.

 


Satu botol plastik bisa menghasilkan 10 hingga 11 meter filamen. Ketebalannya mencapai 1,7 milimeter. Sedangkan untuk membuat satu produk dari filamen itu tidak menentu. Tergantung dari size atau ukuran produk yang akan dibuat.

 

 


“Bisa langsung produksi (filamen). Tidak harus banyak botol dulu baru buat. Satu botol juga bisa. Nanti filamennya itu yang dikumpulkan untuk dibuat jadi produk turunannya,” kata dia.

 


Putra ketiga pasangan Luh Adi dan Ketut Suwitra ini berharap teknologi yang diciptakan dapat membantu mengatasi permasalahan sampah selama ini. Disamping itu dengan memanfaatkan teknologi pengelolaan sampah itu ia dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.

 


“Ini salah satu solusi kecil untuk mengurangi timbulan sampah plastik. Meski kecil saya harap dapat memberikan impact yang besar nantinya,” tutup bapak tiga itu. (dhi)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#teknologi #bali #inovasi #singaraja #sampah #buleleng