DENPASAR, BALI EXPRESS - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali berencana membangun Light Rail Transit (LRT).
Peletakan baru pertama atau groundbreaking LRT ini rencananya akan dilaksanakan pada semester I tahun 2024.
Saat ini Pemprov Bali masih mengkalkulasi biaya produksi, sumber biaya, hingga skema pendanaan proyek LRT ini.
Diperkirakan untuk pengoperasiannya, jenis kereta berkonstruksi ringan ini membutuhkan daya listrik sebesar 4,4 mega volt ampere (MVA) atau sekitar 3,74 mega watt (MW).
Hal ini disampaikan Manager Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali I Made Arya. “LRT hanya butuh 4,4 MVA,” ucap Arya, Rabu 11 Oktober 2023.
Menurut Arya, untuk menyokong beroperasinya kereta ini di Bali, dikatakannya daya mampu listrik di Bali masih sangat cukup, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pembangunan LRT tersebut.
Made Arya menambahkan, daya pembangkit di Bali mencapai 1.514 MW dengan beban puncak 951 MW.
Dengan itu terdapat cadangan daya hingga 563 MW yang tentunya sangat cukup untuk menenuhi kebutuhan LRT saat dioperasikan.
Lebih lanjut, PLN UID Bali sendiri ditegaskannya, sangat siap mendukung pembangunan LRT tersebut.
Demikian diakuinya, dari pihak PLN sudah diikutsertakan dalam pembahasan rencana pembangunan LRT ini.
Seperti diketahui, pembangunan LRT di Bali rencananya sebagian besar akan dibangun di bawah tanah.
Pembangunan LRT ini nantinya akan terdapat tiga fase dimana pada fase satu dimulai dari Bandara Ngurah Rai hingga Seminyak.
Fase satu ini dibagi lagi menjadi Fase 1A dengan rute Bandara Ngurah Rai hingga Central Parkir, 1B dengan rute Central Parkir hingga Seminyak.
Kemudian untuk Fase 2 dengan rute Seminyak hingga Canggu, dan Fase 3 dengan rute Canggu hingga Mengwi.
Saat ini, pengerjaan LRT akan difokuskan terlebih dahulu di Fase 1A dan 1B mengingat wilayah tersebut sudah mengalami kemacetan yang cukup parah. (*)
Editor : I Made Mertawan