BALI EXPRESS - Pesatnya pertumbuhan pariwisata di Desa Tenganan Pagringsingan juga berdampak positif terhadap tumbuhnya seniman-seniman lukisan lontar prasi.
Selain I Wayan Mudita Adnyana, ada banyak seniman prasi terlahir di Desa Tenganan Pegringsingan dengan karakter karya beragam.
Salah satunya adalah seniman prasi I Wayan Tumben. Pria kelahiran 6 Maret 1971, di Banjar Pande, Desa Tenganan Pagringsingan, menekuni seni lontar prasi sejak tahun 1990-an.
Berawal dari coba-coba, Wayan Tumben akhirnya melahirkan seni lontar prasi dengan tema yang berbeda-beda seperti Kumbakarna, Dewa Ganesa, Dewi Saraswati hingga gambar arsitektur bangunan khas balai panjang Desa Tenganan.
Bakat menggambar lebih banyak diperoleh dari melihat gambar-gambar dalam katalog yang ditransfer ke dalam daun lontar.
Hingga kini karya-karyanya banyak diminati wisatawan.
“Bersyukur juga karena setidaknya ikut memberikan semangat dan motivasi dalam menghasilkan karya prasi,” kata Wayan Tumben.
Begitu juga Putu Parwata, 56 yang tak lain putra dari I Wayan Mudita Adnyana. Ia juga mengikuti jejak ayahnya membuat lukisan di atas daun lontar, namun hanya mendalami teknik menggambarnya.
Menurut Putu Parwata, seni prasi mengalami perkembangan pada tahun 1990-an.
Pada tahun itu terlahir beberapa model prasi yang tidak hanya bersifat naratif dalam bentuk cakepan, tetapi juga sebuah karya seni lukis yang sangat indah.
Layaknya seni lukis, prasi model ini menonjolkan bentuk dan teknik arsiran yang sangat halus.
Putu Parwata mengakui tidak bisa mengikuti jejak ayahnya secara utuh karena memahami pasang sastra dan bahasa kawi sangat sulit.
Karena itu Parwata lebih menonjolkan teknik arsiran dan figure tokoh yang dianggap artistik.
Menurutnya, semakin halus dan rapi arsiran dengan menggunakan pengrupak (pisau khusus) untuk menggores bilahan lontar, maka semakin indah dilihat.
“Secara teknis, proses melukis di atas daun lontar dimulai dengan ngedum karang (membagi ruang/mengatur komposisi), membuat sketsa dengan pensil, baru kemudian digores dengan pengrupak,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna