Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Warga Keluhkan Asap TPA Bengkala Buleleng, Akibatkan Pakaian Bau hingga Sesak Napas

Dian Suryantini • Jumat, 12 Januari 2024 | 21:25 WIB
Asap tebal yang mengepul dari TPA Bengkala, Buleleng yang terbakar hingga mengakibatkan bau menyengat dan sesak napas.
Asap tebal yang mengepul dari TPA Bengkala, Buleleng yang terbakar hingga mengakibatkan bau menyengat dan sesak napas.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS– Setelah kebakaran pada Jumat, 29 Desember 2023, asap di TPA Bengkala, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali masih tetap mengepul.

Asap di TPA Bengakala itu disebut-sebut sangat menyesakkan dan menimbulkan polusi udara.

Tidak saja di sekitar desa TPA Bengkala, asap juga mengarah ke Desa Bungkulan, Desa Sawan, hingga Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Kepulan asap yang dibarengi bau yang menyengat mengganggu aktivitas warga sekitar. Sukma Sumampan, warga Desa Bungkulan mengeluhkan dampak dari terbakarnya TPA Bengkala.

Asap yang terus membubung tertiup angin mengarah ke rumahnya yang hanya berada sekitar 500 meter dari TPA.

“Celana saya jadi bau. Mau masuk kantor celana dan baju malah bau sampah,” ungkapnya saat ditemui, Jumat, 12 Januari 2024.

Asap yang berhembus bercampur bau sampah itu bagi Sukma benar-benar merugikan.

Meski tidak berdampingan langsung dengan TPA Bengkala, namun angin menghembus asap itu sampai ke wilayahnya di Banjar Dinas Alas Arum.

“Mau pakai parfum juga tidak mempan. Itu kan asapnya bawa bau sampah yang sudah membusuk di TPA. Bisa dibayangkan, pakaian itu seperti bau sampah. Sampai cucian di jemuran itu rasanya percuma dicuci bersih. Kena asap tetap jadi bau,” kata dia.

Kepulan asap yang hingga kini tidak hanya bau, hembusan asap juga memenuhi rumah kerabatnya.

Bibinya sampai sesak napas lantaran tidak tahan menghirup bau sampah yang terbawa angin.

“Itu saat awal kebakaran sampai beberapa harinya. Baunya pekat, asapnya hitam tebal. Dan sampai sekarang pun masih terus berasap,” tuturnya.

Kendati demikian Sukma maupun warga lainnya yang berada di sekitar TPA tidak bisa berbuat banyak.

Mereka hanya mengandalkan tindak lanjut dari pemerintah untuk menangani permasalahan TPA Bengkala yang terbakar.

“Saya tahu pihak-pihak terkait pasti melakukan penanganan juga. Tapi kalau satu cara tidak berhasil, mohon dipikirkan cara lainnya juga,” ujarnya.

Kepala Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana mengaku menerima keluhan dari beberapa warganya yang terdampak hembusan asap.

Meski bau yang mengudara tidak begitu lama, namun sangat pekat hingga mengganggu pernapasan.

“Malam dari pukul 20.00 Wita mulai bau itu sampai jam 24.00 Wita kira-kira, tapi yang baunya pekat itu cuma sebentar. Yang paling terdampak asapnya di wilayah kami itu di Banjar Dinas Tegal dan Banjar Dinas Pasek, Desa Kubutambahan,” terangnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng, Gede Melanderat mengaku telah melakukan upaya penanganan.

DLH Buleleng menerjunkan alat berat untuk melakukan pengerukan dasar sampah dan melakukan penyiraman agar kebakaran tidak meluas.

“Kami sudah upayakan tim untuk melakukan siram secara rutin. Yang terbakar hanya bagian pinggir,” kata dia.

Terbakarnya TPA Bengkala itu, disebut-sebut akibat ledakan gas metan yang dipicu cuaca panas.

Dari ledakan itu, lahan TPA Bengkala seluas 50 are terbakar dan mengeluarkan asap hitam serta tebal.

Bau sampah yang membusuk pun menguar tertiup angin hingga terhirup di beberapa wilayah Buleleng timur. (*) 

 

Editor : I Made Mertawan
#asap #bali #TPA Bengkala #buleleng