Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sarana Upakara Hindu di Bali Boleh Ikuti Perkembangan Zaman, tapi tak boleh Lupakan Ini

Putu Agus Adegrantika • Senin, 19 Februari 2024 | 16:56 WIB
UPAKARA : Penggunaan sarana upakara yadnya di Bali mengikuti perkembangan zaman,  tetapi tidak boleh lupakan intinya.
UPAKARA : Penggunaan sarana upakara yadnya di Bali mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak boleh lupakan intinya.

BALI EXPRESS – Pelaksanaan upacara yadnya agama Hindu di Bali tidak lepas dari perkembangan zaman. Salah satunya adalah penggunaan bahan sebagai persembahan pada upacara yadnya.

Semua itu pun tidak lepas dari fenomena dan semakin kompleksnya kebutuhan hidup masyarakat.

Pada zaman dulu bahan persembahan untuk upakara menggunakan jajan-jajan tradisional. Namun saat ini sudah mulai menggunakan bahan yang modern dan lebih praktis.

Meski terus berkembang, tujuannya tetap sama untuk dihaturkan pada Tuhan Yang Maha Esa sebagai simbol bakti pada pemujaan.

 Sebab pemakaian sarana upakara di Bali oleh umat Hindu merupakan simbol Tuhan dan sebuah harapan.

Sejatinya upakara di Bali sangat banyak dan beragam bentuk, macam, dan fungsinya. Hal tersebut sesuai dengan situasi, kondisi, kebiasaan, dan kreativitas dalam pembuatannya.

 Meski demikian, hal itu tidak menjadi masalah,  selama unsur pokok yang digunakan masih selalu ada.

Dikutip dari kitab Bhagawadgita IX. 26, unsur pokok dari upakara tersebut adalah bunga, daun, buah, dan air. 

“Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayachati, tad aham bhaktyupahritam asnami prayatatmanah.”

Artinya :

Siapapun yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, atau seteguk air, Aku terima sebagai bhakti dari orang yang berhati suci.

Berdasarkan kutipan sloka di atas, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwasannya semua upakara yang ada di Bali terbentuk dan tersusun berdasarkan unsur tersebut.

Terdapat beragam bentuk upakara di Bali, tetapi ada satu upakara pokok atau inti. Upakara pokok tersebut di antaranya canang dan daksina.

Bahan-bahan sesajen yang dipergunakan boleh saja mengikuti perkembangan zaman. Namun selama bahan pokok tersebut ada, tidaklah masalah.

Semua itu tidak terlepas dari kemampuan masing-masing yang menghaturkan dan tanpa adanya paksaan maupun karena gengsi. Sebab yadnya tersebut merupakan persembahan yang tulus ikhlas. ***

Editor : Nyoman Suarna
#bali #upakara #hindu #Sarana #perkembangan #zaman ahok