Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sekaa Gong Legendaris Buleleng Batal Tampil, Niluh Djelantik Minta Panitia Klarifikasi dan Ganti Rugi

Wiwin Meliana • Senin, 1 April 2024 | 17:49 WIB
Niluh Djelantik ikut angkat suara soal dua sekaa gong legendaris Buleleng batal tampil di HUT Kota Singaraja ke-420
Niluh Djelantik ikut angkat suara soal dua sekaa gong legendaris Buleleng batal tampil di HUT Kota Singaraja ke-420

BALI EXPRESS- Kisruh soal batalnya dua sekaa gong legendaris Buleleng tampil dalam Hut Kota Ssingaraja ke-420 pada Sabtu (30/03) lalu ikut ditangapi oleh calon DPD RI Bali Niluh Djelantik.

Sebelumnya, dua sekaa gong legendaris Eka Wakya Kelurahan Banjar Paketan, Singaraja dan Sekaa gong legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng turun panggung usai kecewa dengan rundown acara yang berubah-ubah.

Melalui akun media sosialnya, Niluh Djelantik mendesak agar pihak panitia segera meminta maaf, melakukan ganti rugi dan memberikan klarifikasi.

Pihaknya pun meminta maaf kepada seluruh penari dan sekaa gong yang batal tampil.

“Memanusiakan manusia Buleleng salah satu caranya adalah merawat adat, tradisi dan budaya mereka. Silakan nyejer band tapi ingat kearifan lokal harus kalian hormati,” tulis pengusaha sepatu itu.

Pihaknya juga berjanji festival tahun depan akan mengutamakan rakyat Buleleng.

“Karena kehormatan dan martabat kami bukan untuk kalian permainkan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kejadian seorang wanita penari Bali marah-marah bermula ketika dua sekee gong legendaris kebanggaan Buleleng tampil dalam penutupan HUT Kota Singaraja ke-420.

Dua sekee gong legendaris kebanggaan Buleleng adalah Sekee Gong Legendaris Eka Wakya, Kelurahan Banjar Paketan, Singaraja dan Sekee Gong Legendaris Jaya Kusuma, Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Dua sekee gong ini batal pentas hingga membuat mereka kecewa. Dua klian sekee gong di Buleleng ini pun angkat bicara.

Pembina sekee gong legendaris, Eka Wakya Banjar Paketan Kadek Pasca Wirsuta, mengatakan, pertunjukan mebarung seharusnya diberikan ruang khusus bagi seni tradisional, bukan menggabungkannya dengan pertunjukan modern.

Baca Juga: Tujuan dan Manfaat Caru Panca Sata dalam Hindu Bali: Kitab Bhagawadgita dan Lontar Carcaning Caru Ungkap Seperti Ini

Sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya Bali, panggung khusus untuk pertunjukan tradisional perlu dipertimbangkan agar tetap mempertahankan keindahan dan keutuhan seni tradisional Bali yang kaya dan mendalam.

“Acaranya sudah bagus, tapi terus ada perubahan. Sampai gladi masih bagus tapi ada perubahan lagi dan saat pentas pun masih ada perubahan,” ujarnya

 

 

Editor : Wiwin Meliana
#batal tampil #hut kota singaraja #sekaa gong legendaris #Niluh Djelantik #buleleng