Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Misterius "Nampah Batu" di Desa Depeha: Tradisi Hindu Bali Kuno atau Rahasia Alam Gaib?

I Putu Mardika • Jumat, 12 April 2024 | 20:44 WIB

Desa Depeha di Kubutambahan, Buleleng, Bali, memiliki tradisi unik yang disebut "Upacara Nampah Batu".
Desa Depeha di Kubutambahan, Buleleng, Bali, memiliki tradisi unik yang disebut "Upacara Nampah Batu".

BALI EXPRESS - Sebuah upacara yang mengundang perhatian besar telah berlangsung di Desa Depeha, Kubutambahan, Buleleng, Bali. Ribuan pasang mata biasanya memperhatikan prosesi unik yang dilakukan oleh krama anyar (pendatang baru) dalam ritual "Nampah Batu" di Pura Puseh Desa Depeha.

Menurut tokoh desa setempat, Jro Ketut Juena, ritual ini bukanlah hal biasa. Krama anyar, sebelum diakui sebagai bagian dari komunitas, harus menjalani serangkaian tahapan yang termasuk dalam tradisi kuno ini.

"Salah satunya adalah mengambil "babi duwe", sebuah batu yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat Hindu setempat dan diyakini milik Ratu Ayu Manik Galih," ungkapnya.

Menariknya, sebelum batu itu digunakan dalam upacara, terjadi sebuah transaksi unik antara krama anyar dan ulun desa. Pembelian batu dilakukan dengan serius, dengan tawar-menawar harga yang wajib diikuti sebelum prosesi ritual dimulai.

Tidak hanya seremoni pembelian, tetapi selama prosesi pengangkutan batu menuju Pura Puseh, ada kejadian misterius yang mencengangkan.

Suara-suara menggelitik seolah-olah babi sedang berteriak terdengar dari krama anyar, memberikan sentuhan magis pada ritual yang sudah turun-temurun ini.

Namun, misteri sebenarnya terletak pada nasib batu setelah upacara selesai. Meskipun disimpan dengan hati-hati di Pura Puseh, batu tersebut selalu menghilang secara misterius dalam waktu tiga hari pasca-upacara.

Apakah ini hanya kebetulan atau ada kekuatan gaib yang terlibat?

Menurut beberapa saksi mata, batu-batu di sekitar Pura Yeh Kedis, tempat di mana batu tersebut ditemukan, juga memiliki aura mistis yang kuat.

Bahkan, beberapa kejadian tak terduga telah terjadi yang diyakini sebagai pertanda dari alam gaib.

Meskipun demikian, orang-orang setempat memperingatkan agar tidak sembarangan mengambil batu-batu tersebut.

Kisah-kisah tragis telah menghiasi cerita tentang orang yang berani mencoba memindahkan batu dari tempatnya semula.

Apakah ini hanya cerita mistis ataukah ada kebenaran di baliknya? Upacara Nampah Batu mungkin lebih dari sekadar tradisi lama.

Mungkin itu adalah jendela ke alam gaib yang tidak dapat dijelaskan oleh akal manusia.

Terlepas dari kebenarannya, ritual ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan spiritualitas masyarakat Desa Depeha.

Dengan segala keunikan dan misterinya, satu hal yang pasti: upacara Nampah Batu adalah warisan budaya yang patut dijaga dan dihormati, sebuah pintu menuju dunia tak terlihat yang masih menyimpan banyak rahasia.

Proses Upacara Nampah Batu:

  1. Maturpiuning: Sehari sebelum upacara, krama anyar melapor diri di Pura Bale Agung (Pura Desa) untuk dicatat dalam daftar Tulud Apuh.
  2. Persembahyangan Bersama: Pada Purnama Sasih Karo, krama anyar melakukan persembahyangan bersama di Pura Puseh dan Pura Yeh Kedis.
  3. Janji di Hadapan Dewi Ratu Ayu Manik Galih: Pasangan pengantin krama anyar berjanji di hadapan Dewi Ratu Ayu Manik Galih untuk mengabdikan diri kepada Desa Depeha.
  4. Mencari Batu Seukuran Babi: Krama anyar, khususnya laki-laki, mencari batu seukuran babi di areal Pura Yeh Kedis.
  5. Tawar Menawar Batu: Batu yang ditemukan ditawar-menawar dengan ulun desa dan dibayar sesuai kesepakatan.
  6. Mengarak Batu ke Pura Puseh: Batu digotong bersama-sama ke Pura Puseh dengan suara menyerupai babi yang meronta.
  7. Pemberian Tirta Banyuawangan dan Tanda Tapak Dara: Batu dibersihkan dengan tirta banyuawangan dan diberi tanda tapak dara di lehernya.
  8. Motong Babi (Nampah Batu): Krama anyar memegang kaki dan kepala batu saat "dipotong" layaknya memotong babi biasa.
  9. Mempersembahkan Lelampadan: Kaum perempuan krama anyar mempersiapkan lelampadan yang terdiri dari berbagai sayuran.
  10. Makan Bersama Megibing: Sayuran lelampadan dimakan bersama-sama secara megibing.

Filosofi Upacara Nampah Batu:

  • Memohon Kesuburan: Upacara ini bertujuan untuk memohon kesuburan ke hadapan Dewa Wisnu dan Dewi Sri.
  • Menyatukan Diri dengan Desa: Krama anyar resmi menjadi bagian dari Desa Depeha dan siap mengabdikan diri.
  • Ungkapan Rasa Terima Kasih: Krama anyar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bumi yang berlimpah.

Keunikan Upacara Nampah Batu:

  • Batu yang Digunakan Selalu Hilang: Batu yang disimbolkan sebagai babi selalu hilang secara misterius 3 hari setelah upacara.
  • Peristiwa Mistis di Pura Yeh Kedis: Batu-batu di Pura Yeh Kedis dikeramatkan dan konon dapat menyebabkan kecelakaan bagi pengendara yang tidak membunyikan klakson.
  • Tradisi Meminta Izin Memindahkan Batu: Mengambil batu di Pura Yeh Kedis tanpa izin dapat menyebabkan kesakitan dan harus dikembalikan dengan upacara guru piduka.

Informasi Tambahan:

  • Upacara Nampah Batu hanya dilaksanakan di Desa Depeha.
  • Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian ritual "menek desa" bagi krama anyar.
  • Masyarakat Desa Depeha sangat menjunjung tinggi tradisi dan budaya leluhur.
 
 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #hindu #tradisi #buleleng