Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Asmara Kang Cing Wie dan Raja Jayapangus Terpatri di Tengkorak Sapi

Dian Suryantini • Rabu, 24 April 2024 | 23:35 WIB
Karya seni rupa prasimologi menggunakan media tengkorak sapi.
Karya seni rupa prasimologi menggunakan media tengkorak sapi.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tiga tengkorak sapi jantan tergantung di dinding ruang Paduraksa, Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja, Buleleng.

Tengkorak sapi itu adalah karya seni prasimologi yang dibuat Satya Pradnyana, mahasiswa Undiksha, Singaraja asal Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Umumnya prasi dibuat atau digambar pada permukaan daun lontar, tetapi Satya menginterpretasikan prasi pada media yang tidak biasa, yakni di permukaan tengkorak sapi.

Tiga buah tengkorak sapi itu tidak tergantung polos. Pada permukaannya tergambar sebuah cerita.

Salah satunya bergambar sepasang kekasih yang dibuat dalam rupa pewayangan. Pada alas tengkorak itu diberi sentuhan lino dengan metode cukil.

“Tengkorak sapi jantan ini sebenarnya limbah dari rumah potong yang ada di dekat rumah saya. Jadi saya minta untuk diubah jadi karya seni,” kata Satya.

Sebelum diambil tengkoraknya, kepala-kepala sapi jantan itu direbus dalam wadah besar dengan air 100 derajat celcius.

Perebusan dilakukan selama satu hari satu malam. Setelah dagingnya mengelupas dari tulang, barulah tengkorak itu dikeringkan.

Butuh waktu yang cukup lama hingga tengkorak itu benar-benar bersih, kering dan tidak berbau.

“Setelah tahapan itu selesai baru dilanjutkan menggambar. Satu tengkorak waktunya satu minggu. Jadi saya sudah mulai itu September 2023,” kata dia.

Ternyata sosok yang terukir dengan tinta Cina pada permukaan tengkorak itu adalah manifestasi dari Raja Jaya Pangus bersama permaisurinya Kang Cing Wie di Kerajaan Dalem Balingkang.

Tiga tengkorak sapi itu bercerita, pada masa pemerintahan Raja Jayapangus, Kerajaan Balingkang menjadi saksi dari peristiwa bersejarah yang memengaruhi aliran budaya dan kehidupan spiritual di kawasan Kintamani, Bali.

Raja yang bergelar Paduka Sri Maharaja Aji Jayapangus Arkaja Cihna ini memerintah dari tahun 1178 hingga 1181 Masehi.

Pada masanya terjadi perubahan signifikan dalam praktik keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat Hindu di Bali.

Salah satu peristiwa penting adalah pernikahan Raja Jayapangus dengan Putri Kang Cing Wie, seorang putri dari keluarga saudagar Tionghoa.

Meskipun pernikahan ini tidak disetujui oleh beberapa patih kerajaan, Jaya Pangus tetap menikahi Kang Cing Wie.

Namun, ketidaksetujuan tersebut menimbulkan kepercayaan bahwa pernikahan lintas suku ini menjadi penyebab alam menunjukkan kebencian dengan letusan Gunung Batur yang mengakibatkan bencana dan wabah penyakit.

Dalam situasi krisis tersebut, atas permintaan Putri Kang Cing Wie, Raja Jayapangus memutuskan untuk memindahkan kerajaan Balingkang ke Desa Ping An, yang artinya "selamat" dalam bahasa Tionghoa, yang kini dikenal sebagai Desa Pinggan.

Keputusan ini dianggap sebagai langkah yang bijaksana karena membawa keselamatan bagi rakyat yang selamat dari bencana Gunung Batur.

Sebagai penghormatan kepada permaisurinya dan sebagai tanda syukur atas keselamatan yang diberikan, masyarakat mulai membangun sebuah pura yang dikenal sebagai Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan.

Di dalam pura tersebut, dibangun sebuah palinggih yang menyerupai klenteng, sebagai simbol dari asimilasi budaya antara Bali dan Tiongkok yang terjadi melalui pernikahan Raja Jayapangus dengan Putri Kang Cing Wie.

Sebenarnya, ada empat tengkorak yang saling bertaut dalam cerita Dalem Balingkang itu.

Akan tetapi satu tengkorak telah dipinang seorang kolektor saat Satya pameran di Grey Gallery Art Bandung. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#Jayapangus #tengkorak sapi #Kang Cing Wie