BALIEXPRESS.ID – Hingga kini tidak ada yang mengetahui secara pasti mengenai kemunculan desa Pengulon yang ada di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.
Desa ini terletak di kawasan Bali Barat, berbatasan langsung dengan Desa Celukan Bawang.
Desa Pengulon dapat dikatakan sebagai desa baru.
Konon sebelum menjadi sebuah desa dan berpenghuni, desa ini hanyalah tanah kosong dan tandus.
Baca Juga: Miliki Peluang Karir di Luar Kota, EDST Memilih Tetap Berproses di Singaraja
Lokasinya dekat dengan pantai berpasir putih yang kini dikenal dengan Pantai Karang Rata.
Menurut Catatan Sugi Lanus, seorang Filolog asal Buleleng tanggal 23 Januari 2021, jalan terjauh menuju kawasan barat hanya sampai di Celukan Bawang.
Hal itu ia jabarkan berdasarkan peta Bali Utara dan Bali, tahun 1885 yang dibuat detail serta akurat oleh Raden Mas Ronodirdjo bersama FA Liefrinck.
Sebelumnya, nama Desa Pengulon tidak tercantum dalam peta tersebut.
Baca Juga: Jaringan Narkoba Gianyar Terbongkar, 8 Orang Ditangkap
Berdasarkan ulasannya, desa Pengulon terbentuk lantaran orang-orang yang berasal dari desa Kalisada membuka lahan di bagian barat Celukan Bawang.
Lama-kelamaan meluas hingga beberapa penduduk menetap. Maka muncullah desa baru yakni Desa Pengulon yang berarti penghujung.
Sebab di bagian baratnya pada waktu itu tidak terdapat aktivitas apapun alias masih kosong.
Berawal dari aktivitas itulah secara bertahap pembukaan lahan dilakukan ke wilayah barat.
Sebagaimana dijelaskan oleh Sugi Lanus, masyarakat dari Banjarasem, Kalanganyar, dan Pengastulan, ada memiliki warisan sampai sekarang di wilayah Gerokgak.
Baca Juga: Parade Gebogan dan Pementasan Seni: Strategi Tanah Lot Menarik Wisatawan Selama Low Season
Keturunan mereka yang membuka hutan masih sembahyang ke merajan-sanggah keluarga mereka di Pengastulan, Kalanganyar dan Banjarasem, serta desa sekitarnya yang menjadi asal dari para pembuka kawasan yang sekarang bernama Gerokgak.
Pada tahun 1920-an, pembukaan lahan sampai di wilayah Pegametan dan Sumberkima.
Kemudian berlanjut hingga ke kawasan Goris dan Sumberklampok dan menanami lahan itu dengan pohon Kayuputih.
Baca Juga: Taman Nusantara Gianyar; Tanamkan Kerukunan Antar Umat Beragama Generasi Muda
Pengolahan Kayuputih pun dilakukan di desa itu hingga sebelum kemerdekaan. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana