BALIEXPRESS.ID – Perang Puputan Badung 1906 merupakan salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Bali.
Perang ini menjadi simbol perlawanan gigih terhadap kolonialisme Belanda.
Kejadian ini terjadi di Kerajaan Badung yang sekarang dikenal sebagai wilayah Denpasar, dan berlangsung pada 20 September 1906.
Pada awal abad ke-20, Belanda berusaha memperluas kekuasaannya di Bali, yang saat itu masih terdiri dari beberapa kerajaan kecil yang merdeka.
Belanda telah berhasil menguasai beberapa kerajaan di Bali Utara, namun Kerajaan Badung, Tabanan, dan Klungkung masih tetap mempertahankan kedaulatannya.
Ketegangan antara Kerajaan Badung dan pemerintah kolonial Belanda semakin memuncak ketika terjadi insiden "Tawan Karang."
Ini adalah hukum adat Bali yang memberikan hak kepada raja untuk menyita barang-barang dari kapal yang terdampar di wilayahnya.
Pada tahun 1904, sebuah kapal milik seorang pedagang Tionghoa terdampar di pantai Sanur, wilayah Kerajaan Badung, dan seluruh barang di kapal tersebut disita oleh pihak kerajaan.
Belanda menuntut ganti rugi yang sangat besar kepada Raja Badung, namun raja menolak membayar, karena merasa tindakannya sah menurut hukum adat.
Belanda menggunakan penolakan ini sebagai alasan untuk melancarkan ekspedisi militer ke Bali, dengan tujuan untuk menundukkan kerajaan-kerajaan yang belum berada di bawah kekuasaan mereka.
Pada 20 September 1906, tentara Belanda yang dipimpin oleh Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen mendarat di pantai Sanur dan bergerak menuju pusat Kerajaan Badung.
Mereka membawa persenjataan modern dan pasukan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki kerajaan tersebut.
Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menahan serangan Belanda.
Namun, daripada menyerah, raja dan keluarganya memutuskan untuk melakukan Puputan, sebuah perang sampai mati sebagai bentuk perlawanan terakhir.
Puputan adalah sebuah tindakan untuk mempertahankan kehormatan dan martabat, meskipun harus mengorbankan nyawa.
Raja bersama keluarganya dan seluruh pengikutnya keluar dari istana mengenakan pakaian putih, simbol kesucian.
Mereka membawa senjata tradisional seperti keris dan tombak, dan berjalan menuju tentara Belanda.
Para perempuan kerajaan turut serta dalam Puputan ini. Beberapa di antaranya membawa perhiasan dan harta benda mereka, yang kemudian dilemparkan ke tanah sebagai tanda bahwa mereka tidak takut kehilangan apapun.
Pasukan Belanda yang dipersenjatai dengan senapan dan meriam segera melepaskan tembakan, dan dalam hitungan menit, raja dan sebagian besar pengikutnya gugur.
Para prajurit yang masih hidup kemudian melakukan ritual bunuh diri massal dengan menikam diri, sebuah tindakan yang dikenal sebagai "ngadep," daripada tertangkap oleh musuh.
Setelah Puputan Badung, Belanda berhasil menaklukkan Kerajaan Badung, dan wilayah tersebut secara resmi menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Beberapa bulan kemudian, peristiwa serupa terjadi di Kerajaan Tabanan dan Klungkung, di mana para raja juga memilih Puputan daripada menyerah kepada Belanda.
Meskipun kekalahan itu pahit, Puputan Badung dikenang sebagai tindakan keberanian dan pengorbanan yang luar biasa.
Peristiwa ini menunjukkan tekad rakyat Bali untuk mempertahankan kehormatan dan kedaulatan mereka, meskipun menghadapi kekuatan yang jauh lebih superior.
Di pusat Kota Denpasar, didirikan Monumen Puputan Badung sebagai penghormatan kepada para pahlawan yang gugur dalam peristiwa ini.
Monumen ini menjadi tempat untuk mengenang sejarah perjuangan rakyat Bali melawan penjajahan dan sebagai simbol keberanian dalam mempertahankan martabat dan identitas budaya.
Hingga hari ini, Puputan Badung tetap menjadi salah satu cerita kepahlawanan yang dihormati di Bali dan Indonesia.
Editor : Nyoman Suarna