Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Loloh Cemcem, Minuman Tradisional Khas Penglipuran Bali yang Awalnya Bernama Rujak Kloncing

I Made Mertawan • Jumat, 16 Agustus 2024 | 22:12 WIB

Loloh Cemcem khas Penglipuran, Bali.
Loloh Cemcem khas Penglipuran, Bali.

BALIEXPRESS.ID- Bagi para pengunjung Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, minuman tradisional loloh cemcem tentu sudah tidak asing lagi.

Loloh cemcem dapat ditemukan di hampir setiap sudut Desa Penglipuran, dijual oleh para pedagang dengan harga Rp5 ribu untuk kemasan 600 mililiter.

Keunikan rasa dan khasiatnya menjadikan loloh cemcem salah satu daya tarik di Desa Penglipuran.

Loloh cemcem terbuat dari daun cemcem, yang dikenal juga sebagai kecemcem atau kedondong hutan. Warga Penglipuran menyebutnya kloncing.

Klian Adat Penglipuran I Wayan Budiarta menyatakan bahwa loloh cemcem telah menjadi ciri khas desa selain klepon ubi.

Perjalanan Sejarah Loloh Cemcem

Sebelum populer seperti sekarang, loloh cemcem dikenal sebagai rujak kloncing, yang dahulu menjadi favorit masyarakat setempat yang mayoritas adalah petani.

Bahan-bahan untuk membuat rujak kloncing mudah didapat, dan proses pembuatannya sederhana, namun memiliki khasiat yang luar biasa.

Tanaman cemcem atau kloncing banyak tumbuh di Penglipuran digunakan sebagai kayu pagar atau pembatas lahan warga.

Untuk membuat rujak kloncing, daun cemcem ditumbuk dan dicampur dengan cabai serta air kelapa, menjadi rujak yang siap dinikmati.

Cara membuat rujak kloncing tidak jauh beda dengan loloh cemcem sekarang.

Rujak kloncing mulai dikenal masyarakat luas melalui kegiatan yang sering digelar di Taman Tugu Pahlawan Penglipuran.

Saat itu, masyarakat setempat sering menyajikan rujak kloncing kepada tamu sebagai pelepas dahaga. Penyajiannya sederhana, menggunakan gelas.

Seiring dengan perkembangan Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata, sejumlah warga mulai menjual minuman ini.

Pada awalnya, kemasan yang digunakan adalah botol bekas yang dicuci bersih.

Namun, seiring waktu, masyarakat menjadi lebih kreatif dengan menggunakan botol baru, dan nama rujak kloncing pun berubah menjadi loloh cemcem khas Penglipuran sekitar tahun 2000-an.

Tak hanya di Penglipuran, loloh cemcem kini juga dipasarkan ke kabupaten lain di Bali, bahkan sesekali penjualnya mengirim ke luar Bali. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #bangli #Loloh Cemcem #Penglipuran #sejarah