BALIEXPRESS.ID - Dalam sejarah panjang pertanian dan komoditas di Bali, ternyata Buleleng pernah dikenal sebagai salah satu penghasil kemiri terbesar di Pulau Dewata, bersama dengan Gianyar dan Karangasem.
Kemiri bukan hanya sekadar rempah yang menambah cita rasa masakan, tetapi juga memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.
Pernyataan itu disebutkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Muhamad Satok Yusuf tahun 2023.
Tumbuhan kemiri di Buleleng konon banyak ditemukan di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan.
Sedangkan di Gianyar disebutkan ada di Desa Batuan dan Tengkulan, serta di Karangasem ada di Desa Ujung.
Kurator Program Muhibah Budaya Jalur Rempah 2023, Adi Wicaksono menyebut, sebagai bagian tak terpisahkan dari masakan Bali, kemiri adalah salah satu komponen utama dalam Base Genep, campuran bumbu lengkap yang menjadi dasar dari hampir semua hidangan tradisional Bali.
Base Genep merupakan jantung dari kelezatan masakan Bali, yang setiap komponen memiliki peran tersendiri dalam menciptakan rasa yang khas.
“Kemiri, dengan teksturnya yang berminyak dan rasanya yang lembut, memberikan aroma dan rasa yang khas pada setiap masakan,” ujar Adi dalam sebuah forum Khazanah Rempah dalam Lontar serangkaian Singaraja Literary Festival, Jumat (23/8) siang.
Buleleng, bersama Gianyar dan Karangasem, terus mempertahankan tradisi pengolahan kemiri ini.
Masyarakat Bali memahami bahwa di balik setiap biji kemiri, terdapat warisan budaya yang harus dijaga.
Peran kemiri dalam sejarah dan kehidupan sehari-hari di Bali adalah bukti bahwa alam dan budaya dapat bersinergi dalam harmoni, menciptakan warisan yang abadi bagi generasi mendatang.
Di sisi lain, Pembaca Lontar Bali, I Gede Agus Darma Putra mengatakan, kegunaan kemiri tidak hanya terbatas pada dapur.
Dalam dunia kesehatan dan kecantikan, kemiri telah lama dikenal sebagai bahan alami yang kaya manfaat.
Minyak kemiri, yang diperoleh dari biji kemiri, digunakan secara luas sebagai ramuan untuk merawat rambut.
Dengan kandungan nutrisi yang tinggi, minyak ini mampu menghitamkan dan menyuburkan rambut, membuatnya tampak lebih tebal dan berkilau.
“Tradisi ini sudah lama dilakukan oleh masyarakat Bali, baik oleh perempuan maupun laki-laki,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, kemiri juga memiliki peran dalam dunia literasi tradisional Bali. Dalam proses penulisan di atas daun lontar, kemiri digunakan sebagai penghitam tulisan.
Kemiri yang dibakar mampu menghasilkan warna yang pekat, sehingga tulisan di atas lontar menjadi lebih jelas dan tahan lama.
Lontar yang ditulis dengan diolesi kemiri bakar ini bisa bertahan hingga ratusan tahun, menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Bali.
Pohon kemiri sendiri dianggap sebagai pohon yang memiliki nilai sakral dalam kebudayaan Bali. Hal ini terbukti dari berbagai prasasti kuno yang menyebutkan kemiri sebagai salah satu pohon keramat.
Salah satu prasasti yang mengungkapkan hal ini adalah Prasasti Baturan, yang berangka tahun 941 Saka (1.098 Masehi). Prasasti lainnya, seperti Prasasti Tengkulak tahun 945 Saka, Prasasti Sawan A1 tahun 945 Saka, dan Prasasti Ujung tahun 962 Saka, juga menyebutkan tentang kemiri sebagai pohon keramat.
Prasasti-prasasti ini menggambarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Raja Marakata, yang secara tegas melarang penebangan pohon keramat, termasuk kemiri, kecuali dalam situasi tertentu dan atas kesepakatan bersama antara raja dan warga.
Larangan ini bukan hanya soal menjaga kelestarian alam, tetapi juga mencerminkan keyakinan spiritual masyarakat Bali pada masa itu.
Pohon-pohon keramat seperti kemiri dianggap memiliki roh pelindung yang harus dihormati, dan menebang pohon ini tanpa izin dianggap sebagai pelanggaran besar yang bisa berakibat pada hukuman berat.
Aturan ini menunjukkan betapa pentingnya peran kemiri dalam kehidupan masyarakat Bali, baik dari segi spiritual, kuliner, hingga kesehatan dan kecantikan.
Di tengah perubahan zaman, tradisi dan kepercayaan ini masih tetap hidup dalam masyarakat Bali, menunjukkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Hingga kini, meskipun teknologi dan modernisasi telah membawa berbagai perubahan, kemiri tetap menjadi salah satu komponen penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
Sebagai bahan masakan, kemiri tak tergantikan dalam menciptakan rasa otentik masakan Bali. Sebagai bahan perawatan rambut, minyak kemiri masih digunakan oleh banyak orang yang percaya pada khasiat alaminya.
Dan sebagai pohon keramat, kemiri masih dihormati dan dilindungi, menjadi simbol keberlanjutan tradisi dan kepercayaan spiritual masyarakat Bali. ***