BALIEXPRESS.ID - Dalam sejarah panjang Bali, hubungan antara desa-desa sering kali membentuk jaringan ikatan historis yang tak terpisahkan. Salah satu contohnya adalah Desa Adat Jelijih (Desa Megati) di Tabanan dan Desa Susut di Bangli, yang memiliki hubungan yang sangat erat sejak zaman kerajaan.
Desa Susut, yang terletak di Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, dan Desa Adat Jelijih (Desa Megati), yang terletak di Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, berada sekitar 60 kilometer satu sama lain.
Namun, jarak ini tak menghalangi kuatnya hubungan historis yang menghubungkan kedua desa ini.
Asal Usul Jelijih dan Megati
Desa Megati, yang kini menjadi pusat Kecamatan Selemadeg Timur, terdiri dari beberapa desa adat, termasuk Desa Adat Megati Kaja, Megati Kelod, Desa Adat Jelijih, Desa Adat Sesandan, hingga Desa Adat Serampingan.
Nama "Jelijih" sendiri memiliki makna yang dalam dan erat kaitannya dengan Babad Bangli Nyalian, mencatat bagaimana Jelijih menjadi bagian dari sejarah Kerajaan Bangli dan Kerajaan Nyalian (Klungkung).
Nama "Megati" konon berasal dari kata "Pagat" atau "Pegat," yang berarti "putus," dan kemudian diubah menjadi "Megati," yang berarti "memutuskan." Nama ini mencerminkan peran leluhur desa dalam membuka hutan dan menjadikan tempat itu sebagai wilayah pemukiman dan pertanian.
Jejak Sejarah Jelijih
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Desa Jelijih dahulu dibuka oleh para leluhur dengan melakukan payogan (meditasi) yang khusyuk. Hal ini memberikan tempat tersebut kekuatan spiritual yang diyakini oleh penduduk setempat.
Seorang tokoh suci yang tinggal di wilayah tersebut memberikan petunjuk penting kepada para pengikutnya, yang kemudian membangun desa dan menciptakan sistem irigasi yang hingga kini masih digunakan.
Nama "Jelijih" juga diyakini berasal dari sebuah peristiwa di mana para pengikut tokoh suci tersebut memohon anugerah di Pura Dalem dan diberkati dengan biji-bijian. Biji-bijian ini dikenal sebagai "jijih," dan sejak saat itu, tempat tersebut disebut "Jelijih."
Hubungan dengan Puri Susut di Bangli
Dalam Babad Bangli Nyalian, disebutkan bahwa Jelijih memiliki hubungan erat dengan Susut, Bangli. Sekitar abad ke-16, wilayah Bangli diperintah oleh seorang raja keturunan Tirta Harum dari Taman Bali, yang merupakan salah satu putra dari Puri Nyalian di Klungkung.
Putra bungsu dari raja Puri Nyalian ini, I Dewa Gede Korian, memiliki dua putra, I Dewa Gede Sekar dan I Dewa Gede Siangan.
Namun, I Dewa Gede Sekar membuat kesalahan di Puri Tusan, Klungkung, sehingga ia diasingkan ke Pulau Nusa Penida bersama putranya, I Dewa Putu Sekar.
Setelah beberapa waktu, I Dewa Putu Sekar bersama dua putranya, kembali ke Bali dan menetap di Jelijih, Tabanan. Kedua putranya adalah I Dewa Gede Dauh dan I Dewa Gede Dangin, tetap tinggal di Jelijih, sementara I Dewa Putu Sekar melanjutkan perjalanan ke Puri Bangli untuk mengabdi kepada Raja Bangli.
Peran Strategis di Masa Peperangan
Dalam masa pemerintahan Raja Bangli, I Dewa Putu Sekar menjadi kepercayaan raja dan ditempatkan di Susut, yang kemudian dikenal sebagai Puri Susut.
Sementara itu, I Dewa Gede Dauh dan I Dewa Gede Dangin, putra I Dewa Putu Sekar, tetap di Jelijih dan menjadi kepercayaan Raja Tabanan.
Namun, kisah tragis menyelimuti keluarga ini ketika I Dewa Gede Dangin gugur dalam perang antara Tabanan melawan Badung dan Mengwi. Setelah kekalahan Kerajaan Tabanan, putra-putra I Dewa Gede Dangin pindah ke Jembrana, sementara I Dewa Gede Dauh tetap tinggal di Jelijih bersama anak-anaknya.
Pembangun Pura Aseman
Saat di Jelijih, I Dewa Gede Dangin dan I Dewa Gede Dauh juga sempat membangun Pura Kahyangan Jagat Luhur Aseman yang saat ini masuk wilayah Desa Manikyang, Selemadeg. Bejarak sekitar 6 kilometer di utara Desa Adat Jelijih. Pura Aseman ini disebut sebagai Pura Kawitan Subak Bali.
Sampai saat ini, keturunan Kerajaan Bangli atau Taman Bali dengan keturunan mereka di Desa Jelijih masih terhubung. Salah satunya adalah adanya Griya Gede Jelijih.
Diketahui, keturunan bekas kerjaan ini membentuk ikatan yang disebut Maha Gotra Tirta Harum Bangli. ***
Editor : Y. Raharyo