BALIEXPRESS.ID - Di samping perdagangan budak, Kuta juga menjadi saksi sejarah tempat perdagangan candu yang didatangkan dari Singapura.
Dikutif dari Buletin Fakultas Sastra Unud, tahun 1987, setelah transit di Kuta, candu tersebut kemudian disimpan sementara di pelabuhan pantai timur Tuban.
Candu itu dipasarkan ke Jawa sebagai barang selundupan oleh orang Bugis dan para bangsawan pemabuk yang tinggal di Tuban.
Candu bernilai 250.000 gulden per tahun diimpor guna ditukarkan dengan tembakau dan kain Bali di Kuta.
Perdagangan candu menjadi sektor utama perdagangan di Kuta.
Terbukti, ketika gudang tempat penyimpanan candu terbakar, perdagangan Kuta menjadi sangat sepi.
Pada waktu kegiatan armada Inggris menanjak di selat Lombok, Belanda mengangkat avonturir berkebangsaan Denmark John Mads Lange untuk membuka aktivitas perdagangan di Kuta.
Keberadaan Lange di Kuta membuat perdagangan Bali, Lombok dan Batavia menjadi ramai.
Kapal-kapal dari Lombok yang membawa beras, gula, asam, babi, garam dan kayu menuju Batavia, akan singgah Kuta.
Demikian juga kapal yang datang dari Batavia menuju Timur yang mengangkut barang-barang pecah belah seperti porselin, besi, barang-barang dari tembaga, sutera dan barang-barang dari Cina akan singgah di Kuta.
Perdagangan budak juga masih mewarnai hingga awal abad ke-20. Semua transaksi perdagangan dilakukan melalui perusahaan Mads Lange.
Dari Singapura, Lange membawa candu, gambir dan tekstil untuk kemudian ditukar di pasaran Kuta dengan beras, kelapa, minyak kelapa, tembakau, daging sapi kering, ternak, dan kopi.
Editor : Nyoman Suarna